Meumong (1) Seperti di Alaska

TAKJUB saya mendengar satu komentar kawan sepulang dari Pantai Meumong. “Itu kan mirip di Alaska,” tutur Nuzul melihat beberapa hasil jepretan saya. Oh ya? Saya tersanjung. “Kamu pikir di sana itu pegunungan es semua?” tambahnya.

Pagi di Pantai Meumong.
Pagi di Pantai Meumong.

Nuzul sudah seperti abang di tempat saya tinggal. Dia seorang pemancing mania yang acap kami sapa ‘Ayah’. Dia ke laut menumpangi boat, setidaknya sekali dalam sebulan. Memancing ke pulau-pulau sekitaran perairan Aceh Besar mengisi waktu luang. Saban malam ia nonton aksi pemancing dunia di Youtube.

Lantas saya telusuri beberapa foto alam Alaska di Google. Alaska adalah negara bagian AS yang dikenal dengan pegunungan es dan keindahan alamnya. Ada beberapa foto (bahkan di selain Alaska) yang mirip dengan pemandangan di Meumong, seperti berikut ini.

Pantai Pasir Hitam di Alaska
Pantai Pasir Hitam di Alaska. (Sumber: 1nfobol4.blogspot.com)
Pesona Pantai Meumong.
Pesona Pantai Meumong.
Pantai Vik di Islandia. (Sumber: 1nfobol4.blogspot.com)
Pantai Vik di Islandia. (Sumber: 1nfobol4.blogspot.com)
View ke kanan Meumong (barat).
View ke kanan Meumong (barat).

KATA “Momong” merebak di kalangan penyuka jelajah alam sejak awal 2014. Terdengar agak aneh. Menyerupai kata “momongan”. Haha. Dalam satu postingan seorang blogger Aceh, juga disebutkan Pantai Momong. Tapi benarkah namanya demikian?

Saya pun menggapai pantai di balik tebing Lampuuek itu pada Minggu 6 April lalu, bersama lima kawan. Dari Banda Aceh, kami melewati Masjid Rahmatullah, Lampuuek.

Jalan lurus lagi hingga kelihatan papan informasi penginapan Joel’s Bungalow di persimpangan. Kami belok kiri. Ambil kanan kalau mau ke Pantai Lange.

(Saya sempat salah alamat dalam memandu Mursal, Fahrijal, Helmi, Mukhlis, dan Zulham, karena mengikuti postingan seorang blogger yang keliru menggambarkan akses ke lokasi tersebut.)

Sekitar selemparan batu dari papan persimpangan Joel’s Bungalow atau sekira 100 meter sebelum loket karcis masuk Tebing Lampuuek, ada jalur setapak di sebelah kanan.

Kami lalui jalan berliku diantara pokok-pokok kelapa. Memasuki hutan hingga tampak pagar pembatas.

Foto dulu, biar jadi panduan bagi pengunjung selanjutnya,” pinta Mursal.

Parkir gratis di batas akses kendaraan.
Parkir gratis di batas akses kendaraan.

Dia berpose dengan Mukhlis di batas terakhir akses kendaraan. Lekas kami melangkah pelan di dalam terowongan sinar mentari jam 4.30 sore. Jalur berumput menuntun kami ke persimpangan dekat kebun durian. Atas saran seorang pekebun, beloklah ke kiri.

Selanjutnya perjalanan sedikit mendaki. Di bawah naungan dahan-dahan pepohonan, lima menit kemudian ombak mulai terdengar, mengalahkan nada-nada cempreng dari binatang rimba.

Jalur setapak. Mohon dibuang 'situek'nya dong! :D
Jalur setapak. Mohon dibuang ‘situek’nya dong! 😀

Ombak terdengar dari kiri. Mursal dan Mukhlis belok kiri menuruni gundukan tanah yang menjadi jalur terakhir. Mereka mengikuti tiga rekan lainnya di depan.

Laut biru nan asri menyambut kedatangan. Dari sini, memandang Pantai Lampuuek bagai memerhatikan lukisan di dinding rumah. Orang-orang seperti koloni semut. Di kiri ada bukit dengan tebing yang memisahkan pantai ini dengan Lampuuek.

Pasir Pantai Meumong baru dijejaki.
Pasir Pantai Meumong baru dijejaki.
Lihatlah Lampuuek dari jauh.
Pelototilah Lampuuek dari jauh. 😀

“Ya, ini Pantai Meumong,” tutur Iman, pemuda Lampuuek yang kebetulan berlawanan arah dengan Mursal dan saya. Katanya mereka baru pulang mancing dari barat Meumong dan hendak melanjutkan di tebing bersama kawannya.

Huff.. Sampai juga. Tapi kami belum temukan bukti tertulis soal penamaan pantai ini. Usai rehat sejenak sembari menikmati Lampuuek dari jauh, saya dan Mursal ingin berpetualang menyusul Zulham.

Ketika itu, sore mulai sirna dari samudra. Kami menaiki bukit, permisi pada Si Geng, Helmi, dan Fahrijal yang bersantai di bawah pohon dekat bibir pantai.

Pantai Meumong dari celah pohon di bukit.
Pantai Meumong dari celah pohon di bukit.

Hai, soe peugah nan jih Momong? Di ateuh jeh Meumong dituleh,” gugat Zulham pada saya, siapa yang mengatakan pantai ini bernama Momong.

Dia yang sedang santai di pepohonan besar dekat tebing, mengajak kami untuk membuktikannya. Di kanan peristirahatan tadi, perbukitan semakin menjulang. Di bahu bukit itulah, papan bertuliskan “Meumong” dipaku pada sebatang pohon.

"Meumong, kaaan?" :D
“Meumong, kaaan?” 😀

Penemuan itu cukup menguatkan kami bahwa ini namanya Pantai Meumong. Disebut Momong barangkali karena orang yang memperkenalkan pantai ini tak fasih mengucapkannya.

Lampuuek dari Bukit Meumong.
Lampuuek dari Bukit Meumong.

Dari bukit ini pula, pemandangan seperti di Alaska, memanjakan mata. So, jika Anda belum mampu menikmati keindahan alam di Alaska, AS, maka nikmati dulu keindahan di Alaska, AB (Aceh Besar). 😀 [Bersambung]

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

13 thoughts on “Meumong (1) Seperti di Alaska”

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s