Meumong (2) dan Perburuan Sunset

Pantai tampak lebih indah dengan sunset di atasnya, bisakah kita menikmatinya di Meumong?

Matahari menyinari Mursal, model saya dalam perjalanan ini. Haha.
Matahari menyinari Mursal, model saya dalam perjalanan ini. Haha.

MATAHARI awal April mulai condong ke ufuk barat. Turun dari bukit, Zulham justru ke timur untuk bergabung dengan tiga lainnya. Padahal memburu sunset adalah momen yang dapat menggetarkan batin penikmatnya.

Mursal tak menolak ajakan saya menggapai matahari tenggelam nun jauh di barat pantai ini. Semoga dapat!

Lampuuek - Lhoknga from the jungle.
Lampuuek – Lhoknga from the jungle.
Tekstur pantai dijalari tanaman berbentuk huruf 'M', sepesial buat Makmur dan Mursal. Haha.
Tekstur pantai dijalari tanaman berbentuk huruf ‘M’, sepesial buat Makmur dan Mursal. Ups! 😀

Kami menaklukkan medan bebatuan. Sesekali menyelinap di antara tebing-tebing. Mursal hampir menyerah karena lelah dan buru-buru harus pulang. Kami juga meninggalkan air minum di peristirahatan.

“Tanggung, Bang Bro, sudah mau dekat.”

Saya memotivasinya setelah 10 menit. Butuh waktu seperempat jam juga untuk kami akhiri trekking di tebing setinggi dua kali mistar gawang. Tak bisa beranjak lebih jauh, ke ujung tebing di titik terjauh pandangan kami.

Buang batu dulu biar bisa lewat. Hoho.
Pindahi batu dulu biar bisa lewat. Hoho.
Sudah bosan hidup nih Mas Bro..
Sudah bosan hidup nih Mas Bro..
"Disinilah akan saya bangun kompleks perumahan." :D
“Tidak jadi terjun, karena saya akanbangun kompleks perumahan disana.” 😀

Dari tebing itu, saya bisa merekam detik-detik matahari 6 April 2014 bergeser ke titik tenggelamnya di ufuk barat. Namun tak dapat momen matahari turun dengan warna merah saga seperti memotret dari Pantai Lange atau Pantai Lampuuek. Puas rasanya mengejar sunset. Jauh meninggalkan 4 kawan di belakang. Mereka tak tahu apa-apa jika terjadi sesuatu pada kami.

The moment.
The moment.
"Oke banget, Mamen." :D
“Oke banget, Mamen.” 😀
Matahari hampir hilang.
Matahari hampir hilang.
Matahari meninggalkan Meumong.
Matahari meninggalkan Meumong.

Dalam perjalanan, bukanlah seberapa jauh rute yang berhasil tercapai, melainkan seberapa lama momen yang bisa kita nikmati.

Pantai Lampuuek tampak lebih indah dari tebing ini sebelum kegelapan turun. Kami kembali ke tim. Lampu-lampu mulai menyala dari Pantai Lampuuek. Mursal dan Si Geng pamitan; mereka akan masuk kerja. Sementara kami mempersiapkan tenda dan api unggun sebelum ‘pertunjukan malam’ dimulai. [Bersambung]

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

4 thoughts on “Meumong (2) dan Perburuan Sunset”

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s