Wisata Bemo Khas Meukek

Si Bijak mengatakan: jangan hanya mencari apalagi menunggu, tapi ciptakanlah.

ANGKUTAN umum empat roda takkan kamu temukan jika jalan-jalan ke Meukek, Aceh Selatan.

Bila ingin menikmati perjalanan dengan kendaraan umum, cukup berdiri di tepi jalan atau mejeng saja di bawah pohon halaman rumah (bangunan lainnya). Tak perlu mengumbar senyum, pengemudi becak motor tiga roda pasti berhenti di depanmu.

Bemo Meukek
Bemo Meukek

Tapi suatu siang di minggu ketiga April lalu, saya sendiri yang harus berteriak dari bibir jalan, menanyakan apakah perempuan-perempuan yang mengepit dompet di ketiaknya perlu tumpangan. (Lihat video di bawah)

Ide itu terbersit ketika saya, Ikbal Fanika dan temannya Azzi, sedang bengong tak tahu mau buat apa. Selagi cari angin di halaman bekas kedai Azzi, becak motor (bemo) tiga roda yang ramai melintas di jalan nasional Desa Labuhan Tarok, Kecamatan Meukek, menarik perhatian saya.

Di mana-mana juga ada becak, apa yang spesial?

Lah! Simak dulu saya baru mau berkisah. 😀

Dalam satu becak yang menggoda saya, (sebenarnya penumpangnya yang menggoda, hehe), siswi yang duduk di dasbor becak melemparkan senyum ketika saya memotretnya; kutebak, senyumnya jauh lebih manis dari manisan pala oleh-oleh khas Aceh Selatan.

Tuh, si gadis mau turun. :D
Tuh, si gadis mau turun. 😀

Sementara lima temannya duduk berdesakan membelakangi kami, sepertinya menatap lima teman lainnya namun terhalang dua kawan mereka yang berdiri di badan becak.

Labi-labi pada ke mana? Biasanya anak sekolah di Pidie, Bireuen, dan kebanyakan daerah lain di Aceh bergelantungan di ekor labi-labi?

Sudah ga jaman kali bergantung di labi-labi..

Lah! Semakin saya mengetuk tombol jepret di iPad, semakin becak itu berjalan pelan, dan kemudiaaan, di hadapanku ia berhenti. Apa sang sopir marah difoto???

Eh rupanya, seorang dari mereka turun. Lalu becak kembali melaju. Daaan… senyum siswi itu hilang. Namun, becak-becak motor terus melintas kemudian, mengangkut pelajar pulang sekolah.

Di lain waktu, sopir becak akan mengantar anak ke balai pengajian, ibu-ibu belanja ke pasar, juga angkut barang. Ibu-ibu bahkan menaiki becak itu ke acara kawin.

Becak dilaaawan. :D
Becak dilaaawan. 😀
"Ya Allah... semoga makin banyak yang kawin.. " :D
“Ya Allah… semoga makin banyak yang kawin.. ” 😀

Faktanya, siang itu, setelah ditinggal senyum siswi tadi, saya menantang Ikbal dan Azzi berkeliling desa dengan becak. Kebetulan di halaman rumah Ikbal, ada becak milik familinya yang sedang stand by. Azzi kami paksa menyopirinya.

Tak cuma keliling, dia pun berhenti di hadapan beberapa ibu-ibu dengan bedak di wajah.

Waaah, kami dapat penumpang rupanya. Rejeki di siang bolong. Eh bukan, tepatnya, rejeki yang memang dinanti dompet kami yang sedang bolong!

Haha. Jadilah kami bercengkerama dengan tiga wanita paruh baya dan satu bocah. Mereka mau hadiri pesta kawin di desa tetangga.

Keakraban pun terjalin di dalam becak.

Cerita punya cerita, sudah lima tahun labi-labi tak lagi memasuki kawasan Meukek. Saat itu, kesepakatan diambil, bahwa transportasi umum masyarakat Meukek diganti dengan becak motor tiga roda, seumpama bemo di Jakarta.

“Lebih murah dan dingin,” aku seorang ibu. (Lihat video).

 

Modelnya pun dikonsep hampir seperti rangka labi-labi. Bentuknya lebih kecil. Tanpa kap, kecuali atap yang ditunjang empat tiang besi. Bangku penumpang persis seperti labi-labi punya. Dua sisi yang berhadapan disangga sandaran besi sebagai pengaman.

Untuk mengkoordinasi becak itu, dibentuk pula persatuan becak motor Meukek Aceh Selatan.

Di kecamatan lain, labi-labi masih beroperasi. Ide masyarakat Meukek sangat patut dicontoh daerah lain di Aceh yang ingin menciptakan suasana keakraban antarpenumpang dalam transportasi umum.

Kendaraan yang unik dan menarik untuk wisatawan. Duduk di dalam “bemo Meukek” ini, saya bisa menikmati pemandangan lebih leluasa. Hampir-hampir seperti pemandangan yang akan kita peroleh saat menaiki kereta kuda di Pulau Jawa. Hanya, ini sedikit lebih cepat!

Siang itu, Azzi dapat uang enam ribu rupiah dari ibu-ibu penumpang. Haha. Satu trip, biaya penumpang dewasa  dua ribu, sedang siswa seribu rupiah. Sigo tak dua pat lut. Jalan-jalan dapat, jajan juga dapat.

Ayo ke Meukek Aceh Selatan, nikmati panorama alam dari dalam becak.[]

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

8 thoughts on “Wisata Bemo Khas Meukek”

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s