Diculik Backpacker Cilet-cilet

Masih jelas terekam di kepala saya. Malam Kamis terakhir Mei itu, lelaki berbadan atletis membawa saya dari guest house, ke satu tempat yang sepi. Dalam perjalanan, saya heran. Kok? Mata saya tak ditutup. Tangan saya tak diikat. Dia juga tak pakai sebo.

Jauh dari remang-remang lampu kota, ia belok kanan di salah satu lorong saat menanjaki Lintasan Jalan Elak. Tak kelihatan penduduk meski ia memasuki kampung.

Saya diturunkan setelah kami melewati tambak, dipaksa ikuti saja ke mana dia melangkah. OMG! Apa yang akan dilakukannya terhadap saya? Tulooong, tulooong… 😦

“Di balai atau dermaga?” diberinya kesempatan buat saya bicara.

“Kayaknya lebih enak di dermaga, Bang.”

Senangnya saya, akhirnya Citra Rahman alias Backpacker Cilet-cilet berhasil “menculik” saya untuk bermalam di Danau Aneuk Laot. Hanya berdua. Kebetulan, dia tengahΒ backpacking di Sabang saat saya sedang dapat tugas liputan ke ibu kota Pulau Weh. Jadilah kami kopdar di danau. Haha, sorry jika agak menipu Anda. πŸ˜€

Ohhh nooo!

Bermalam di Danau Aneuk Laot
Bermalam di Danau Aneuk Laot

Oke, oke.

Melalui postingan ini, saya hanya ingin tegaskan, Danau Aneuk Laot Sabang sangat cocok dijadikan camping ground area. Lahan kosong luas. Danaunya pun gampang diakses. Dan kita bisa melakukan fish spa karena banyak ikan bulan di dalam air yang siap memakan sel kulit mati Anda!

Dan malam itu, kami berharap bisa menikmati galaksi bima sakti alias milky way. Dugaan kami, fenomena kumpulan miliaran bintang itu akan terlihat pada jam 2 Kamis dini hari.

Citra mengeluarkan perlengkapan kemping, tenda ukuran dua orang dan matras. Diikatnya lampu kepala di dahi. Saya membantunya kaitkan tulang penyangga tenda. Kamar kecil kami pun terpacak manis di dermaga kayu.

Kami duduk menghadap danau di bibir dermaga. Kucing kampung warna jeruk mengeong. Ia mendekati kami dan ngesot di badan saya. Kucing itu saya sodori beberapa keping roti bakar kering yang saya beli di kios sebelum melintasi Jalan Elak.

Obrolan kami memecahkan keheningan. Langit terang di barat daya seperti disenter dari bawah.

“Itu Banda Aceh,” tunjuknya.

Awan kelabu Pulau Weh mengitari cahaya itu. Bintang muncul satu-satu. Gemerlap malam Kota Sabang tergambar dari sinar lampu berpendar-pendar memantul bagian utara danau.

Citra mengecek perkiraan munculnya milky way dengan salah satu aplikasi astronomi di telepon pintar-nya. Kemungkinan muncul antara jam 1-2 dini hari jika langit benar-benar dicerahi gemintang.

Mendekati jam 12. Mata sudah berat. Nyanyian jangkrik meringankan pandangan. Namun tiupan angin mengayunkan dermaga kayu, sehingga kamiΒ layoh, dan bikin benar-benar ingin tidur.

Kami pun masuk tenda.

zZz… zZz…

Tadaaa! Selamat pagi… πŸ˜€

Kucing ini menemani kami sampai pagi. :D
Kucing ini menemani kami sampai pagi. Manisnya πŸ˜€
Ihhh, genitnya mereka berdua. :)
Ihhh, genitnya mereka. πŸ™‚

Tak ada milky way. Entah. Mata kami tak lagi terbuka selepas masuk tenda semalam. Tapi pagi-pagi, kami menikmati terapi ikan. Duduk di bibir danau, mencelupkan kaki dalam air. Gerombolan ikan bulan mencubiti sel-sel kulit mati kaki kami.

Jangan diganggu, lagi fish spa.
Jangan diganggu, lagi fish spa.
Langit Sabang mulai cerah.
Langit Sabang mulai cerah.
Ayo gabung... :D
Seksi that abang nyoe, Dek. πŸ˜€
"Sabang, santai banget," kata host Jalan-jalan Men.
“Sabang, santai banget,” kata host Jalan-jalan Men. πŸ˜›
Selfie before mandi. :D
Selfie before mandi. πŸ˜€
Mari pulang..
Mari pulang..

Nikmat sekali. Thank you Backpacker Cilet-cilet. Sabang is … πŸ˜€ []

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

29 thoughts on “Diculik Backpacker Cilet-cilet”

  1. waaah, coba adegan itu diperankan oleh sepasang kekasih pasti kesannya sangat romantis. kalo ini hmmmm…. romantis sih prosesnya tapi bukan pelakunya…

      1. Haha, alhamdulillah ga terjadi hal2 yang diinginkan. Ya.. kami inginkan milky way tak ada, kami inginkan begadang jg ga terjadi, dan ingin-ingin lain.

  2. nyan cap (y) ana sudah dua kali menikmati aneuk laot itu… sangat luar biasa lagi apabila sempat mengelilinginya dengan sampan dayung kecil… waaaw ketegangan dan keseimbangan sangat di utamakan hahaha

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s