Snorkeling di Seulako

Bubble
Bubble

Gerimis tak berhenti sampai kami menyiapkan peralatan selam di Scuba Weh. Saya harus menemani fotografer majalah dan kawan-kawannya menyelam. Saya harus ikut, demi tulisan yang terasa dan sedalam mereka menyelam nantinya.

Rinaldi bilang, “bagaimana pun cuaca, badai atau hujan lebat, tetap aman menyelam di bawah laut,” kata fotografer yang lebih 100 kali menyelam itu.

Dia, temannya Nur, dan instruktur selam Bang Dahlan serta tiga muridnya, Amin, Zikra, dan Dedek, mengangkut peralatan selam ke speedboat yang ditambatkan di tepi Pantai Teupin Layeue.

Kamera untuk motret bawah laut.
Kamera untuk motret bawah laut.

Iboih dan Rubiah pagi itu terlihat membeku. Permukaan air tak biru sebagaimana biasanya. Saya tetap mencuri kesempatan memotret dengan iPad mini, di sela-sela rintik hujan. Memotret di laut adalah motivasi utama saya selain melengkapi tugas liputan.

Semangatnya mereka sebelum menyelam. :D
Semangatnya mereka sebelum menyelam. 😀

Deru mesin mereda setelah 10 menit. Mereka berhenti di selatan Pantai Seulako yang rimbun. Hujan membuat ombak tenang. Satu persatu, dipandu guide selam, Atim, mereka jatuhkan badan ke air. Mendahulukan kepala secara jungkir balik alias bakcroll entry.

Saya hanya bisa menyaksikan detik-detik mereka akan menikmati surga bawah laut Pulau Weh. Bom pun membawa saya, menjauh dari Rinaldi dkk yang mulai tenggelam.

Kami pelan-pelan arungi sebilah Selat Malaka dan berhenti di antara Rubiah dan ujung Pulau Seulako. Bom tekong boat yang masih muda, berpostur kecil legam namun kekar. Sehari-hari ia bertugas membawa para penyelam ke sejumlah spot skuba di perairan Teluk Sabang.

Bom si boatman.
Bom si boatman.

Teman Bom yang mengangkut penyelam lain, mendekati selagi kami menunggu para penyelam. Berusia 20-an juga.

Pulau Seulako hanya dihuni satwa, banyak ular di sana,” kata Bom ketika kami mendekati West Seulako Dive Site. “Pernah suatu kali, kawanan tawon keluar dari Pulau Seulako dan mengincar tekong boat,” ceritanya.

“Dia terpaksa nyemplung ke laut, menyelam hingga kawanan tawon pergi. Inilah yang kami takuti saat menunggu para penyelam,” sambung teman Bom.

Saya mulai ketakutan, andai sarang tawon diganggu binatang lain, pasti terbang dan menyerang kami. Sudah pasti, tekong boat akan nyemplung, saya bagaimana?

Untungnya, kami aman-aman saja hingga penyelam muncul dan kami kembali ke Scuba Weh untuk rehat.

Cemburu membara di hati ketika saya melihat foto-foto bawah laut dari kamera sebesar kepala manusia di tangan Rinaldi. Oh, asyiknya mereka di bawah laut.

Na yang meudarah-darah hate,” celutuk Kak Nur.

Hehe. Saya hanya diam.

Tak ingin perjalanan sia-sia, dalam perjalanan skuba kedua mereka, saya akan menyelam permukaan saja selagi menunggu.

Usai rehat sejenak, mereka kembali naiki boat yang sama. Kali ini akan menyelam di West Seulako, tadi di East Seulako. Saya masih berharap bisa memotret di tengah laut. Trip pertama tadi, hujan turun pelan-pelan sepanjang waktu, terlalu konyol jika saya harus memotret tanpa pengaman lensa.

Penyelam turun di barat Seulako. Selagi menunggu, saya dan Bom melihat gerombolan ikan pisang muncul ke permukaan, tak jauh dari kami. Bahkan satu ikan itu, sebesar lengan, sempat memamerkan lompatannya.

Kami dekati, mereka menghilang. Saya pun meluncur ke air begitu mesin boat dimatikan. Air tenang membuat saya bebas merendam diri. Cara jitu menghangatkan tubuh ketika gerimis masih membasahi kami.

Habis mandi, selfie doulouu. :D
Habis mandi, selfie doulouu. “Igoe ube raya.” 😀

Saya mulai suka mengapungkan diri di lautan. Tertarik melihat Bom yang lompat ke air begitu para penyelam tenggelam. Saya pun ikut-ikutan, berbekal baju pelampung yang sengaja saya bawa.

Setelah setengah jam, kami berjalan pelan. Saya minta Bom ajari kemudi speedboat. Saya tarik tuas mesin berkali-kali, hingga mengeluarkan bunyi dan berguncang-guncang.

Ada dua stir dekat mesin di ekor boat. Saya tarik yang satunya. Putar kanan jika ingin belok kiri, maka stir satu lagi akan otomatis mengikuti. Begitu juga sebaliknya. Saya berhenti dekat susunan batu besar yang menjulang ke permukaan air, di antara Pulau Seulako dan Rubiah.

“Itu Arus Paleh Spot Dive,” kata Bom.

Tiba-tiba, si bule yang ikut rombongan Rinaldi tadi muncul. Dia naik boat dan saya meminjam kacamata selamnya. Tunggu apalagi? Ikan-ikan gerombolan ikan hias berwarna biru-hitam-kuning dekat batu menggoda saya untuk nyemplung. Saya tahu bahwa spot ini sering dilintasi hiu. Tapi saya harus menikmatinya sebagaimana hiu itu. Kalau muncul, muncul-lah ia. Hehe.

Dan saya pun menikmati selapis surga bawah laut Sabang di tempat tak biasa.

Hanya 5 menit, Rinaldi dkk muncul terpaut 30 meter dari kami. Bom langsung meluncur ke arah mereka, meninggalkan saya. Oh, tidak. Saya ditemani Zikra yang terpisah dengan rombongan selam. Kami pun berenang mengejar boat!

“Sebenarnya tak bisa snorkeling di situ, tapi ga apa, itu tadi ombaknya tenang,” ingat Bang Rinaldi. Oow. 😀 Pengalaman sangat langka dan berharga.

Kesempatan snorkeling belum berakhir. Besok pagi, mereka akan melakukan fun dive ketiga. Saya ikut dan membawa seperangkat alat selam, kacamata, snorkel, life jacket, dan fin.

Menuju The Canyon.
Menuju The Canyon.
Percikan ombak dengan latar Seulako dan Rubiah.
Percikan ombak dengan latar Seulako dan Rubiah.

Minggu itu, langit agak cerah. Namun laut berombak. Kami akan menuju The Canyon Dive Site. Jauh ke selatan Seulako. Pulau Rondo yang merupakan pular terluar di batas barat Indonesia tampak lebih dekat ketika kami mendekati lokasi. Bendera merah putih di puncak KM Nol melambai-lambai.

Semakin jauh melaju boat, ombak semakin ganas. Dan, dinding air mulai menerjang kami berkali-kali. Syukur, Bom sangat teliti mengemudikan boat, berselancar di antara gelombang yang naik-turun. Kami bagai bermain papan selancar.

Tekong akhirnya memutar arah, menuju Seulako. Di dekat batu besar menjulang ke laut, tak jauh dengan selatan Seulako, mereka turun satu per satu, menikmati keindahan bawah laut di Batee Tokong Dive Site.

Rombongan lain juga turun di Batee Tokong Dive Site.
Rombongan lain juga turun di Batee Tokong Dive Site.
Tuh dia, Bang Naldi, mau turun.
Tuh dia, Bang Naldi, mau turun.
Simak baik-baik ya, just kidding :D
Simak baik-baik ya, just kidding 😀

Saya belum punya sertifikat selam, so, terpaksa kembali menunggu mereka dari atas boat, menikmati goyangan boat yang keras. Ombak ganas, saya tak berani turun kali ini. Ha-ha.

Jika Anda sedang di Pantai Iboih pada Sabtu pagi dan siang serta Minggu pagi, akhir Mei dan awal Juni lalu, mungkin saya menjadi pemandangan aneh di antara diver yang menumpangi speed baot putih. Tapi terpenting, saya bisa lebih leluasa saat menulis pengalaman Rinaldi dkk nanti. 😀 []

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

11 thoughts on “Snorkeling di Seulako”

    1. Pake aplikasi PhotoScape untuk PC. (Download gratis, versinya sesuai windows yang kita install).

      Atau kalo uda diinstall, edit dengan model “Animated GIF”. Gampang kok, pasti bisa. 😀

  1. baca tulisan ini serasa sdg berada di tkp langsung bang. hehe makin menguatkan keinginan untuk kesana lagi minggu depan. 😀

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s