Berdamai dengan Bencana Sejak Dini

Every child is an artist. The problem is how to remain an artist once he grows up, kata Pablo Picasso, pelukis ternama dunia. Arti sederhana: Setiap anak adalah seorang seniman. Masalahnya adalah bagaimana membuat ia tetap menjadi seniman ketika tumbuh dewasa.

Dongeng Edukasi Bencana

SYAHDAN. Saya sangat senang melihat kreasi sebagian relawan Care Anak Gayo saat menangani anak-anak korban gempa Gayo 2 Juli 2013.

Sebulan setelah bencana berlalu, tepatnya pada 5 Agustus 2013, Yanti Octiva–alias Nyak Ti–dan beberapa relawan mengajarkan edukasi bencana dengan metode baru dalam konteks mitigasi bencana di Aceh.

Dia bersimpuh di depan puluhan anak-anak Desa Dedingin, Kecamatan Kute Panang, Aceh Tengah, dalam meunasah darurat di Dusun Celala desa itu. Anak-anak ditemani orangtuanya sangat antusias menyimak Nyak Ti berdongeng. Nyak Ti menggamit dua replika boneka jari. Di kanannya berkarakter jerapah dan gajah di kirinya. Si Gajah diberi nama Gagah. Dia memperkenalkan karakter yang akan diperagakan.

Juki, kalau gempa apa yang kamu lakukan?” ucap Nyak Ti dengan langgam dongeng.

Kalau gempa lindungi kepala, hindari kaca, masuk ke bawah meja, dan lari ke tempat terbuka.”

Yanti Octiva saat mendongeng.
Nyak Ti saat mendongeng.

Selesai Nyak Ti, giliran anak-anak itu berdongeng. Satu-satu persatu mereka “dipaksa” maju ke hadapan teman-temannya. Dia memandunya. Sebagian terlihat lucu dan malu-malu. Semua yang memeragakan Juki dan Gagah kemudian diberikan hadiah.

Saya senang karena hal itu gagal kami lakukan ketika bergabung dengan relawan Care Anak Gayo di posko pengungsian Kute Gelime, Kecamatan Ketol, selama 19-21 Juli 2013. Saat itu saya dan Ahmad Ariska volunteer RumahPohon Activity Aceh membawakan sekantung boneka jari. Namun hanya sepasang karakter dari Juki&Friends, yaitu Juki dan Baya (karakter buaya). Masalahnya, kami hanya membagikan boneka jari tanpa sempat mendongengkan edukasi.

Bagi-bagi Juki dan Baya di Kute Gulime. FOTO: Dharaa Zubier
Bagi-bagi Juki dan Baya di Kute Gulime. FOTO: Dharaa Zubier

Karenanya, harapan kami terlaksana kemudian di Dedingin meskipun hanya dengan modifikasi Juki&Friends. Gambar jerapah dan gajah dari sebuah majalah anak digunting dan disematkan dengan pegangan bambu seadanya. Boneka tidak dipasang di jari, tapi dimainkan seperti dalang wayang. Akhirnya, selama satu jam lebih, Nyak Ti berhasil menanamkan edukasi bencana di kepala anak-anak Dedingin.

Ekspresi bocah saat belajar berdongeng.
Ekspresi bocah saat belajar berdongeng.
Seriusnya. :D
Seriusnya. 😀

Saya kira, metode itulah yang seharusnya dijadikan kebijakan dalam mitigasi bencana di Indonesia ke depan. Pendidikan bencana harus diajarkan kepada anak-anak, bukan kepada orangtua. Kenapa?

Pertama, anak-anak mudah menangkap dan menerima hal-hal baru. Saya sepakat dengan perumpamaan Pablo Picasso. Anak-anak dapat dengan mudah menjadi seniman, bisa dengan gampang meniru dan memerankan hal baru yang ditunjukkan.

Dalam hal berkreasi, anak-anak memang pelaku. Melakukan apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan. Contoh sederhana. Anak balita Indonesia di taman kanak-kanak mudah sekali diajari tarian adat daerah. Mereka juga dengan enteng meniru goyangan panggung khas Caesar di acara Yuk Keep Smile. Tentu saja pengalaman Nyak Ti di atas merupakan transfer pengetahuan yang baik kepada anak-anak.

Psikolog anak menyatakan, tontonan mempengaruhi anak untuk membentuk theatre of mind (teater dalam pikiran) dalam kepalanya. Tontonan yang masuk dalam kepala anak akan menjadi sebuah pertunjukan dalam pikiran. Anak-anak dapat dengan mudah mempraktikkan drama dalam pikiran saat menghadapi realitas hidup yang sejalan dengan ide cerita sebuah tontonan.

Kedua, anak-anak secara hukum alam memiliki masa hidup lebih panjang dibanding orang dewasa. Anak-anak yang sering diperlihatkan tarian, ia akan tertarik belajar menari. Semakin dini ia belajar, semakin lama ia bertahan dengan keterampilannya. Sementara anak-anak yang kerap dipertontonkan sinetron sarat kekerasan dalam rumah tangga, ia akan terdoktrin kekerasan dalam menghadapi kehidupannya di hari mendatang.

Di beberapa negara yang sistem pendidikannya berbasis karakter siswa, anak-anak diarahkan untuk fokus belajar pada bidang yang disukai. Seorang anak yang gemar menggambar, ia dikirim ke sekolah seni. Mulai dari Sekolah Dasar, ia belajar seni hingga ke perguruan tinggi. Dijamin, ia pun menjadi seniman ketika tumbuh dewasa.

Memang, belajar tidak mengenal usia. Minal mahdi ilal lahdi. Dari ayunan hingga ke liang lahad. Sejatinya, hadits ini seperti menjelaskan, belajar harus dimulai sedini mungkin dan tanpa pernah berhenti. Perihal inilah—ajarkan anak-anak sesuai kegemarannya sejak dini—sebenarnya yang perlu diperhatikan setiap orangtua.

MAKA patut diapresiasi ketika didirikan RumahPohon Activity (RPA) pada 2009 oleh Salma Indria Rahman. Dia kemudian merajut sepaket boneka jari dengan karakter binatang. Diberi nama Juki&Friends. Juki adalah karakter buaya yang merupakah tokoh utama. Boneka-boneka kecil itu nyaman dipasang pada jemari.

Sebagaimana tertulis di grup Facebook, RumahPohon Activity didirikan pada 2009 untuk memasyarakatkan kembali tradisi mendongeng dan penanaman budi pekerti sekaligus peningkatan kreativitas anak secara edukatif melalui boneka jari Juki&Friends. (Lihat salah satu video berikut untuk lebih memahami konsep dongeng boneka jari).


Peluang penyebaran tradisi mendongeng di Aceh sebenarnya cukup terbuka saat Salma datang ke Banda Aceh pada 2012. Lantas dia membangun jaringan klub dongeng SOS Childrens Village. Ia juga mengajari guru PAUD/TK se-Banda Aceh dan Aceh Besar tentang edukasi bencana menggunakan boneka jari. Saat itu beberapa pemuda Aceh tertarik dengan cara Salma.

Mereka pun menyosialisasikan Juki&Friends melalui SOS Children Village di Gampong Jawa sejak Maret 2012. Namun usaha mereka mentok setelah dua bulan dijalankan, sebab tidak mendapat respons yang baik dari warga setempat. Salah satu volunteer RPA Aceh sangat senang ketika kami bersedia membawa sekantung boneka jari yang dikirim dari RPA Pusat ke Gayo.

Semangat Salma seharusnya menjadi teladan bagi perempuan Aceh khususnya untuk mendongengkan edukasi bencana bagi anak-anak Aceh. Kita terkenal dengan syair pengantar tidur “dodaidi”. Tapi sesekali, bolehlah orangtua di Aceh mengganti lagu dengan syair-syair berisi edukasi bencana jika terkesan aneh mendongengkan mitigasi bencana seperti Juki&Friends.

Lima karakter Juki&Friends. FOTO: news.indonesiakreatif.net

Bukankah kita kagum dengan pengalaman warga Simeulue yang selamat dari amukan tsunami 2004 karena syair smong? Nah! Bagaimana kalau syair-syair smong itu dijadikan dongeng pengantar tidur bagi anak-anak Aceh masa kini? Pesan-pesan dalam kearifan lokal masyarakat Simeulue itu nantinya akan menjadi drama pikiran dalam kepala mereka.

ADA opsi lain jika syair smong tidak cocok untuk dongeng pengantar tidur. Tarian. Ya. Tarian adat Aceh bisa saja diiringi syair smong. Dan ini lebih efektif. Sebab akan ada banyak pendengar karena tarian Aceh akan selalu banyak penonton. Sementara jika pengganti ninabobo, hanya seorang anak yang mendengarnya.

Edukasi bencana melalui tarian pernah dilakukan oleh Yoko Takafuji. Sukarelawan asal Tokyo ini menyisipkan edukasi bencana dalam kesenian tari maena di Pulau Nias mulai 2011. Ide itu diperolehnya usai mempelajari peristiwa semong—nama untuk gelombang besar yang melanda Simeulue tahun 1907—sejak 2006 dan mengawinkannya dengan legenda tsunami tendenko. Tsunami tendenko merupakan pelajaran dari pengalaman warga yang mengalami gempa Meiji Sanriku, Jepang, tahun 1986. Saat itu banyak orang hendak menolong keluarganya hingga terlambat meloloskan diri.

Sosok Yoko Takafuji dimuat di Harian Kompas, edisi 4 Juli 2013 halaman 16, ditulis wartawan penulis buku Jurnalisme Bencana, Bencana Jurnalisme, Ahmad Arif. Dia menulis, maena merupakan tarian tradisional dengan gerakan sederhana yang bisa ditampilkan dalam berbagai kegiatan. Daya tarik maena terletak pada rangkaian pantun yang disampaikan untuk mengiringi para penari. Yoko berharap, setiap daerah di Indonesia yang rentan bencana harus dicari strategi sesuai konteks, sebut dia:

misalnya di Aceh, kenapa kita tak mengubah syair berisi pendidikan bencana untuk mengiringi tari Saman?”

Aceh seharusnya menaruh perhatian besar pada harapan Yoko tersebut. Ada banyak jenis tarian adat di provinsi paling barat Indonesia ini. Jika Nias punya maena, di Aceh ada saman dan didong yang bisa jadi diiringi syair berisi pendidikan bencana. Jika pun harus, seniman Aceh bisa menciptakan satu jenis tarian baru yang menyalurkan edukasi bencana bagi anak usia dini. Tarian itu nantinya bisa memuat syair smong yang sudah edukatif atau membuat syair baru tentang bencana.

Adapun syair-syair itu bisa juga diciptakan sesuai karakter daerah dengan bahasa khasnya. Pada kasus gempa Aceh Tengah dan Bener Meriah Juli 2013, mesti diciptakan syair baru dengan bahasa gayo yang setidaknya berisi: “Kalau gempa lindungi kepala, hindari kaca, masuk ke bawah meja, dan lari ke tempat terbuka”. Syair baru ini nantinya disampaikan pada tarian didong yang merupakan khas Tanah Gayo. Hal yang sama pun dapat dilakukan daerah lainnya di Indonesia yang rentan bencana.

Contoh-contoh empiris di atas memberikan saya satu kesimpulan, masyarakat Indonesia harus berdamai dengan bencana sejak dini yang dimulai pada anak-anak usia dini. Ada dua media untuk menyampaikan edukasi bencana, yaitu melalui dongeng dan tarian.

Aceh di mata aktivis peduli bencana adalah Negeri 1001 Bencana. Anak-anak Aceh dan Indonesia umumnya akan menjadi generasi rapuh jika tidak disuguhi edukasi bencana sejak dini. Lebih-lebih, wilayah Indonesia secara geografis terletak di Cincin Api yang sangat rawan bencana alam.

Maka tak ada alasan untuk tidak menyampaikan edukasi bencana kepada anak usia dini. Mereka lebih punya masa hidup yang panjang. Mereka juga seniman. Saya teringat cerita dua narasumber dalam Talkshow Titik Nol, Sekolah Siaga Bencana, di Serambi FM, 22 Juli 2014. Fahmi Yunus, pekerja pengurangan risiko bencana, berdasarkan pengalamannya di lapangan, anak-anak lebih hafal dibandingkan orangtua ketika diajarkan cara mengurangi risiko bencana. Dan Teuku Agus Putra, aktivis pengurangan risiko bencana untuk anak-anak dan perempuan menyatakan:

ketika anak-anak mendengarkan dongeng, hikayat, syair-syair, itu akan melekat di anak-anak.”

Sekarang kita berharap Pemerintah Aceh maupun Pemerintah Indonesia, menelurkan kebijakan khusus terkait edukasi bencana untuk anak usia dini. Yoko Takafuji, Salma Indria Rahman, dan Nyak Ti telah membuktikan, menyampakain edukasi dengan berdongeng dan tarian itu lebih efektif untuk berdamai dengan bencana.[]

NOTE: Artikel ini diikutkan dalam Lomba Menulis Kebencanaan Kategori Menulis di Blog dengan tema “Berdamai dengan Bencana” dalam rangka memperingati 10 tahun tsunami Aceh.

 

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

12 thoughts on “Berdamai dengan Bencana Sejak Dini”

  1. Sepakat sekali dengan uraian-2 dan sudut pandang Makmur, memang sudah seharusnya kita, masyarakat Indonesia ini berdamai dengan bencana, karena negeri ini terletak di daerah cincin api. Salah satu cara mengurangi resiko bencana, adalah dengan membekali anak-anak [terutama] juga warga masyarakat lainnya cara-cara meminimalisir resiko bencana, misalnya dengan menyisipkan tema tentang antisipasi bencana di dalam dongeng, syair, tarian, dsb. Juga dengan tsunami drill misalnya?

    Sukses untuk ngontesnya yaaa. Semoga menang!

    1. Amiin.. Makasih Kak. 😀

      Iya. Sudah dipastikan Aceh berada di wilayah rentan bencana, maka kita tak bisa mengelaknya, kecuali memenumakan cara mengurangi risikonya.
      Maka, edukasi bencana untuk usia dini adalah solusi jangka panjang. Dan dongeng dan tarian adalah dua hal yang paling disukai anak-anak. Sangat cocok kan kalo syair-syair mitigasi bencana disampaikan melalui dua media itu.

  2. salam kenal, anak-anak memang pendengar dan sangat merekam apa yang dilakukan oleh orang-orang dewasa. memberikan pengetahuan tentang kebencanaan kepada anak-anak sejak dini memang penting terutama pada daerah rawan bencana. jepang sendiri hampir setiap tahun juga melakukan pelatihan secara kontinyu bagi generasi muda

    1. Salam kenal kembali
      Iya Mbak, kita berharap, pemerintah lebih fokus pada edukasi bencana untuk usia dini. Seringnya kita melihat di koran-koran, “mengenalkan” bencana kepada masyarakat hanya lewat simulasi yang kadang-kadang sambil tertawa.

  3. tulisan nya bagus sekali makmur.. menjadi relawan bencana tidak hanya kita yang menjadi subjek dalam memberikan perhatian dan bantuan. terkadang kita juga bisa jd objek. menjadi relawan kita bisa belajar arti dari kesabaran kan ketangguhan.. sepakat bahwa edukasi ttg kebencanaan harus dilakukan sejak dini. secara hukum alam mereka akan lebih lama hidup dibandingkan generasi sebelumnya…

  4. Selamat makmur. Juara terus ni. #kalau gak juara 1,2,3,
    Btw, unntuk menyemangati kami pembaca boleh dong sesekali makmur berbagi pengalaman tentang ketika passion di dunia tulis-menulis. Tepatnya jatuh bangun lah. Dan satu lagi soal menjaga konsistensi. Ini penting. Dan itu ada di makmur.

    1. Terima kasih Muna. Alhamdulillah..:D
      Wah, saran yang sangat bagus. Dan soal berbagi tips menulis itu sudah lama saya tanamkan rencananya, hanya belum muncul saja batangnya.

      Memperjuangkan cita-cita kita dalam segala lini kehidupan kita pasti ada jatuh-bangunnya. Begitu pun saya, ada banyak hal yang saya alami ketika memilih hidup dengan menulis. Tapi segala aral ini saya anggap semangat untuk terus konsisten pada komitmen saya: “saya akan menulis sampai akhir hayat.”

      Kawan saya bilang, “Makmur seorang yang tekun menulis, tekun pula dalam mengikuti lomba menulis.”

      Saya pikir, ketekunan juga kunci dari kesuksesan, selain tidak pernah menyerah!

      Nah, cerita lengkapnya, tunggu saja tulisan saya di masa yang akan datang. Bisa jadi dalam bentuk artikel atau saya rangkum dalam sebuah buku. 🙂

      Salam kreatif.

  5. Iya, kami tunggu postingan sharing perjalanan sukses kamu di dunia tulis menulis.
    Makmur sedang punya projek nulis buku ya?
    Waah, terus buku yang kemaren nangkring di piasan seni barengan nazar shah alam, itu juga kumpulan tulisan makmur. Tambah melejit ya sekarang? #beurkah meu-blog..

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s