Mengintip Dunia Autisme di Terapi Wicara

Cermin besar di ruang terapi

Jangan diam jika melihat anak berbicara sendiri atau berlagak semaunya. Bisa jadi ia salah satu anak berkebutuhan khusus di Aceh yang perlu segera diterapi.

Oleh Makmur Dimila

Ryni Afrianti memperlihatkan Alif selembar puzzle bergambar mata manusia. Keduanya duduk saling menghadap di meja kayu. Namun anak berusia lima tahun itu tidak menatap balik sang terapis.

“Maaa-ta!” Suara perempuan yang disapa Rini itu sedikit meninggi, memancing konsentrasi Alif.

Berkali-kali dialihkan perhatian, anak itu masih saja melempar pandang ke segala arah, tetapi tidak ke mata Rini yang sabar sejak berpuluh menit lalu menunjukkannya beragam gambar anggota tubuh.

Anak autis makan sambil belajar
Rini menyuapi Aif jeruk. Photo: Makmur Dimila

Di meja lain dalam ruang bercat hijau daun itu, ada Titi yang duduk menyelonjorkan kaki melalui kolong meja ke kursi di hadapannya. Bocah 10 tahun ini berbicara sendiri, sembari melahap bulir-bulir jeruk dari dalam wadah kue kedap udara Tupperware Medium Summer berwarna oranye.

Terkadang ia pelototi dirinya sendiri pada cermin besar yang menggantung hampir memenuhi satu sisi dinding ruangan itu. Namun ia hanya larut di situ, sebab badannya seakan terpasung oleh meja yang diberi lubang setengah lingkaran dan dirapatkan ke dinding.

“Sengaja dibuat meja seperti itu agar mereka tidak aktif bergerak saat belajar,” tutur Rini, terapis sekaligus Kepala Sekolah Taman Observasi Terapi Wicara (TOTW), 20 Januari 2016.

Titi sudah sekitar lima tahun ikuti terapi dan sudah banyak mengalami kemajuan, sebut perempuan paruh baya itu, sementara Alif yang menderita autistik berat sudah hampir dua tahun di sana.

Cermin besar di ruang terapi
Anak autistik bisa melihat perilakunya pada cermin besar. Photo: Makmur Dimila

Rini tak sendiri. Di ruangan sebelahnya yang juga ber-AC, dengan ukuran sama namun disekat dua, ada empat perempuan tenaga terapis. Masing-masing mereka dampingi seorang anak berkebutuhan khusus (ABK). Banyak permainan puzzle di sana.

“Sudah cukup difotonya, ya. Dia tidak bisa lihat barang canggih. Dia akan minta itu meskipun sama orang tidak dikenalnya,” saran seorang terapis kepada Pikiran Merdeka yang coba memotret seorang anak tengah bermain puzzle hewan di lantai.

***

Taman berupa rumah dua lantai itu melayani terapi visual dan terapi wicara untuk anak-anak berkebutuhan khusus seperti keterlambatan perkembangan berbicara (speech delayed), gangguan tingkah laku dan emosional (autisme), rendahnya fungsi intelektual (retardasi mental) dan keterbatasan kemampuan bergerak secara terarah (cerebral palsy), gangguan pendengaran dan wicara, serta gagap dan kelainan artikulasi.

Saat ini ada 40 anak yang terapi di TOTW setiap bulannya. Dulu dari 2002 – 2011 hanya buka kelas siang karena kekurangan tempat, dengan anak berkisar antara 8-12 orang per bulannya. Masa belajar antara 1-2 jam setiap pertemuannya dari Senin – Jumat. Sejak 2012, dibuka kelas pagi.

Per Januari 2016, terapi kelas pagi berjumlah 12 anak dan siang 25 anak. Semakin lama semakin meningkat. Anak-anak yang diterima antara usia 2 – 15 tahun. Namun tak menolak jika berusia di atas 15 tahun.

“Dulu ada sampai masuk SMP dan orangtunya merasa perlu, itu tidak masalah. Cuma anak-anak semakin bertambah besar kan semakin susah diatur, sedangkan anak-anak di sini masih anak kecil, gitu.”

Taman ini juga mengadakan observasi selama dua hari dan evaluasi selama 6 bulan. Selama evaluasi akan dilihat perkembangan si anak; jika si anak mampu, pihaknya akan sodori program lanjutan.

“Jika si anak tidak mampu atau tidak menguasai apa yang kita ajarkan, ia akan tetap di program awal,” jelas Rini.

Anak autis belajar
Guru harus banyak bersabar. Photo: Makmur Dimila

TOTW memiliki program yang berbeda-beda. Tapi spesifiknya pada terapi wicara. Sebab rata-rata, walau anak-anak itu autistik, cerebral palsy, dan down syndrom, semuanya bermasalah pada bahasanya.

Sistemnya juga fleksibel. Ada anak yang sudah dinyatakan bisa keluar dari program terapi lalu masuk lagi setelah beberapa bulan. Itu tidak menjadi soal.

“Karena di sini tidak ada batasan berapa lama terapinya. Kita bukan menyembuhkan, tapi membantu mereka bisa berkomunikasi dan sosialisasi,” ujar Rini.

Anak-anak itu setelah ikuti program TOTW biasanya akan diboyong orangtuanya cek kesehatan ke Medan atau Malaysia. Bukan keharusan. Justru ABK ini dianjurkan masuk sekolah formal sehingga bisa berinteraksi dengan anak sebaya.

“Kita juga tidak mengharuskan mereka sekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB),” ungkap Rini, “itu tidak boleh bagi kita.”

Belajar di SLB boleh-boleh saja. Tapi biasanya di sana banyak anak tunarungu (bisu) yang seringnya menggunakan bahasa tubuh. Sehingga dikhawatirkan anak-anak yang dilatih untuk mengeluarkan bahasa (berbicara_red) ini malah mengalami tunarungu.

Rini menyebutkan, saat ini ada beberapa sekolah dasar hingga menengah atas di Banda Aceh yang menerima ABK. Tapi mereka harus disediakan guru pendamping.

“Guru shadow, namanya. Sedangkan untuk usia TK/PAUD, sudah banyak menerima anak-anak autis.”

Di sisi lain, ungkap Rini, kesadaran (awareness) masyarakat terhadap gejala anak autistik sudah meningkat saat ini.

Dulu, 2010 ke bawah, para orangtua telat sadar, anaknya dibawa ke klinik terapi ketika usia 5 atau 6 tahun, menjelang masuk SD. Itu akan memperlambat penanganan, apalagi anak-anak harus menghadapi lingkungan sekolah formal.

Tahun selanjutnya, setelah diketahui banyak kasus, orangtua menjadi lebih peka. Hingga kini, mereka sering dititipkan anak-anak berusia 2 – 5 tahun.

“Biasanya anak mereka masih usia 1,5 tahun, diajak komunikasi tapi respon berlainan, anak-anak itu dibawa konsultasi dulu ke dokter anak yang sudah kerjasama dengan kita.”

Anak-anak di TOTW juga diberikan ruang kreativitas tergantung kondisi mereka. Anak-anak balita biasanya bermain puzzle sambil meniru. Mereka mengenal angka, warna, dan abjad. Sementara anak-anak usia lebih tua membuat hiasan origami dan sebagainya.

Namun kebanyakan mereka sulit untuk betah dalam kreativitas. Setelah diajarkan bermain, lekas saja mereka rusak lagi.

Hanya sebagian kecil yang mau berkarya—seperti melukis—hingga tuntas. Itu pun hasilnya tak mau ditempelkan di TOTW. Mereka bawa pulang untuk diperlihatkan ke orangtuanya.

Bukan mudah memang mendidik anak autistik. Kesabaran hal mutlak, aku Rini. ABK biasanya butuh kasih-sayang. “Kebanyakan anak-anak yang kemari itu kurang perhatian dari orangtua. Kesibukan orangtua salah satu faktornya,” tandasnya.[Bersambung]

Rubrik KELUARGA PM 109
Diterbitkan di Rubrik KELUARGA Tabloid Pikiran Merdeka edisi 108 (25 – 31 Januari 2016)
Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

One thought on “Mengintip Dunia Autisme di Terapi Wicara”

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s