Aceh Women for Media

Aceh Women for Media

Perempuan berambut keriting pirang melenggang masuk ruangan. Dengan wajah sumringah menonjolkan matanya yang biru laut. Amy Mullins, namanya. Cukup terkenal bagi pengguna sosial media di Australia. Khususnya melalui akun Twitter, dia mengangkat isu-isu kesetaraan gender.

Tahun lalu, ada suatu konferensi tentang kebijakan perekonomian yang hanya menghadirkan 8 (delapan) pembicara lelaki. Amy dan kawan-kawannya dari Women’s Leadership Institute Australia (WLIA)—Lembaga Kepemimpinan Perempuan Australia—mentweet Event Organizer tersebut. Dia menyebutkan 8 perempuan yang layak bicara untuk konferensi itu. Namun tidak digubris.

“Tapi tahun ini, EO yang sama akhirnya minta kepada kami beberapa perempuan untuk acara tersebut,” cerita Amy, awal Mei 2015 itu.

Ami Mullins
Amy Mullins saat memaparkan fenomena Women for Media. Photo: Dok. APJC

Upaya yang dilakukan Amy dkk. tak terlepas dari fakta bahwa perempuan Australia jarang dilibatkan dalam membuat rumusan kebijakan pemerintah. Media massa di negara-negara bagian Australia juga sedikit mengutip gagasan perempuan. Karena itu, WLIA membangun gerakan Women for Media pada 2012.

Profil perempuan Australia berpotensi pemimpin dikumpulkan di halaman resmi Women for Media (dapat diakses di www.wlia.org.au/women-for-media/).

Perempuan dengan jabatan penting di berbagai perusahaan, diulas profilnya oleh Amy dkk. Setiap perempuan lengkap dengan foto, jabatan, kategori keahlian, biografi singkat, contoh berita yang mengutip pendapatnya, serta dicantumkan beberapa nama perempuan lain yang pantas dikutip untuk isu yang sama.

Women for Media hakikatnya bertujuan untuk memudahkan media massa Australia dalam mencari narasumber perempuan yang layak dikutip untuk suatu pemberitaan.

Saya coba mengklik kolom “Contact Now” di bawah foto profil perempuan yang ingin diwawancarai. Kemudian muncul kolom: nama, kontak, dan organisasi tempat wartawan bekerja, untuk diisi. Lekas saya klik “View Contacts”.

Lalu muncul halaman “Contact for perempuan tersebut”: ada alamat kantor, email, nomor telepon, dan websitenya; disediakan pula kontak asisten eksekutif dan asisten pribadinya yang lengkap dengan nama, email, juga nomor telepon.

Jika tak mau repot, wartawan bisa masukkan emailnya di kolom email untuk mendapatkan detil kontak perempuan tersebut via surat elektronik.

Selanjutnya saya klik “Request a Comment”. Lalu tampil halaman “Request a Media Comment or Interview”. Meminta pendapat atau wawancara.

Di halaman ini ada kolom “Story Outline”, yaitu wartawan harus mengisi topik atau peristiwa yang akan ditulis. Selanjutnya di kolom “Story Deadline”, wartawan menulis tanggal berapa berita harus siap. Terakhir klik “Send Request”.

Journama Talgarno
Julie de Hennim, pengusaha ternak di Talgarno, Victoria, saat kami jumpai di rumahnya. Photo: Makmur Dimila

Terkagum saya. Betapa mudahnya hubungi narasumber dengan aplikasi seperti Women for Media. Dengan cara itulah WLIA membantu kesataraan gender dalam pemberitaan media massa di Australia. Dipilih media karena dari sanalah corong aspirasi masyarakat berasal.

“Perempuan yang berpotensi leader harus tampil di media massa, salah satu tujuan kami,” sebut Amy. “Awalnya mereka malu-malu untuk bicara ke media massa, tetapi setelah satu atau dua kali dikutip, mereka menjadi enjoy,” terang Direktur Eksekutif WLIA itu.

Kelompok perempuan Australia inginkan di setiap struktur pemerintahan atau perusahaan terdapat 40 persen laki-laki dan 40 persen perempuan, 20 persen tersisa bebas. Namun saat ini hanya beberapa persen perempuan saja yang duduk di pemerintahan, sehingga banyak kebijakan tak mewakili kebutuhan kaum ibu.

Sekilas, kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan (gender equality) di Australia tak kalah buruknya dengan Indonesia. Tetapi keberadaan Women for Media membuat perempuan Negeri Kangguru sedikit lebih maju.

Di Bumi Pertiwi, banyak kasus kekerasan terhadap perempuan, baik dalam rumah tangga maupun korban konflik, yang belum diketahui publik.

Untuk mengadvokasi hak-hak perempuan, di Aceh misalnya, lahir Balai Syura Ureueng Inong Aceh (BSuIA) pada tahun 2000, yang merupakan mandat untuk melaksanakan rekomendasi dari kongres perempuan Aceh bertajuk Duek Pakat Inong Aceh pada tahun yang sama.

Amatan saya hingga saat ini, BSuIA dalam memperjuangkan hak perempuan Aceh, cuma berupaya menjalankan hasil rekomendasi dari kongres Duek Pakat Inong Aceh yang digelar setiap 5 (tahun) sekali. Mereka belum punya strategi maksimal untuk membantu media mendapatkan narasumber perempuan Aceh yang layak bicara ke publik.

Saat ini memang sudah berjalan website resmi Gerakan Perempuan Aceh, yang dikelola BSuIA (dapat diakses di http://www.gerakanperempuanaceh.org). Tetapi ia belum cukup membantu pekerja media massa. Saya rasa, BSuIA layaknya WLIA, perlu membuat semacam Aceh Women for Media, disesuaikan dengan norma-norma dan nilai-nilai yang berlaku di Negeri Syariat.

“Perempuan harus proaktif. Membekali diri dengan (ilmu) pengetahuan, sehingga ketika ditanyai media, memberikan respons yang layak dikutip untuk pemberitaan,” saran Amy Mullins.

Begitu pun jika Aceh Women for Media kelak hadir. Setiap perempuan Aceh yang profilnya dimuat di halaman resmi, haruslah para perempuan Aceh yang punya kapasitas dan wawasan yang luas dan layak menjadi narasumber media lokal maupun nasional.

Di samping itu, BSuIA sebagai pelaku utama di balik layar, harus “menjemput” media. Tidak hanya menunggu telepon dari wartawan. Sesekali, jurnalis harus dihubungi; misalnya untuk perkenalan platform Aceh Women for Media nanti. Saya pikir, perempuan Aceh bisa berbicara lebih lantang! Semoga.[]

Diterbitkan di Rubrik DIAFRAGMA Majalah POTRET edisi 79 | 2015

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s