Arti Gantungan


Sebuah gantungan punya maksud tak terduga dari penggunanya. Sampai-sampai ada yang memanfaatkannya sebagai ajang menampakkan diri pada orang lain kalau ia sudah berkunjung ke mana-mana.

Je mengamati, hampir semua orang Aceh suka menggantungkan benda-benda unik di resleting tas, kunci kendaraan, dan telepon genggam. Ada juga yang lebay: memasang gantungan di helm dan knalpot sepeda motor.

Gantungan itu diperoleh melalui: sengaja membeli, oleh-oleh orang, menghadiri pesta perkawinan, dan dapat di jalan (sudah pernah dipakai).

Seperti Isan masa kecil. Ia selalu mengekori ibunya ke pesta perkawinan. Jika dilarang ikut, ia merengek. Bukan melihat “raja-ratu sehari” di pelaminan, melainkan hanya untuk memperoleh gantungan yang diberikan tuan rumah ketika tamu menyerahkan kado.

Ada juga orang yang sok sudah pernah keluar negeri melalui gantungan, seperti Ari. Hampir di setiap resleting tas ranselnya, gantungan berbau luar negeri menggayut. Ada gantungan menara Eifel, ingin membuktikan bahwa ia sudah pernah ke Paris, Perancis. Menara kembar (twin tower), menunjukkan kalau ia sudah ke Malaysia. Tembok besar China, ia sudah pernah ke sana. Lancang Kuning, menunjukkan ia sudah ke Riau. Borobudur, ia pernah ke Jawa Timur, dan lain-lain. Padahal, itu semua hanya pemberian orang. Hanyalah oleh-oleh.

Aneh lagi kawan Ari. Si kawan memasang gantungan di helm. Gantungan berupa boneka monyet. Ia melorot dari kepala hingga kaca helm. Ketika mengendara, monyet itu berjingkrak-jingkrak, seakan-akan kera hidup seperti setiap hari memunculkan diri di pinggir jalan nasional Saree-Seulawah menunggu lemparan pisang dari pengguna jalan .

Gila pula yang dilakukan Brahim. Ia memasang gantungan dot bayi di knalpot sepeda motornya. Tak jelas tujuannya. “Tampil beda, Coy,” katanya.

Bagi pasangan kekasih, biasanya menggunakan gantungan yang berbentuk hati. Gantungan itu berupa hati terbelah dua. Satu sisi yang ada mata anak panahnya untuk cowok jika ia yang “menembak”. Satu lagi yang pangkal anak panahnya untuk cewek, jika ia yang menerima. Bisa sebaliknya.

Artinya, mereka sehati. Tak boleh jauh-jauh. Harus selalu dekat. Tapi mereka akan jauh juga ketika malam. Nah, dibelahlah hati tadi, terbagi dua. Ketika kangen, masing-masing mereka saling melampiaskannya pada gantungan itu.

Sebagian orang, sesuatu barang disemat gantungan bertujuan sebagai penarik perhatian jika suatu saat hilang. “Agar mudah dilirik mata,” kata Aya, yang memasang gantungan sepatu balita yang berbunyi ketika ditekan di tapaknya. Tak lain, ketika jatuh lalu hilang, mudah dideteksi: jika terinjak akan melahirkan bunyi.

Di balik hal-hal sepele itu, mayoritas orang menjadikan gantungan sebagai kenang-kenangan. Baik mengenang pemberian orang lain maupun bersifat pribadi. “Sesuatu banget,” kalau kata penyanyi Syahrini. Satu contoh saja, pemberian gantungan itu menandai diterima cinta.

Lalu, bagaimana dengan pejabat-pejabat negara yang sangat sering keluar daerah dan negeri. Pasti banyak bawa oleh-oleh berupa gantungan dari tempat yang dikunjungi, jika sempat membeli. Tak dipakai dirinya, tentu ia serahkan ke orang terdekatnya.[]

(CP HA 20/11/11)

Advertisements

Ma-ma Du-du


Bangai long siblah u, bangai kah ma-ma du-du. Cantek kah siblah u, cantek long ma-ma du-du. Orang Aceh sering menlontarkan kalimat-kalimat ini ketika terjadi pertengkaran atau perselisihan pendapat. Paling sering, dipraktikkan anak-anak sekolah dasar.

Bila diindonesiakan, ma berarti ibu dan du berarti ayah. Maka kalimat pertama, dalam bahasa mudahnya bermakna: Kebodohan saya hanya seukuran sebelah buah kelapa, sedang kebodohanmu dari ibu hingga ayah. Kalimat kedua: kecantikanmu hanya sebelah kelapa, sedang kecantikanku dari ibu hingga ayah.

Ma-ma du-du, sederhananya bermakna sempurna atau penuh. Kata paling sederhana, sesuatu begitu itu “emang dari sananya.” Penafsiran lain: bodohnya si A hanya di bidang tertentu, tapi bodohnya si B dalam semua bidang; miskinnya si Y hanya dirinya saja, tapi miskinnya si Z sudah dari orangtuanya. 

Makna  lain, ma-ma du-du dalam suatu hal itu tidak setengah, tak jua sebagian saja. Misal, gantengnya lelaki India cuma hidung mancung dan hitam manis saja. Tapi gantengnya Nabi Yusuf—meski tak pernah kita lihat tapi sudah difirmankan—terdapat di semua anggota tubuh dan jiwa.

“Kaya kah siblah u, kaya long ma-ma du-du,” kata teman Ari padanya suatu kali. “Maklum, Yah kah pejabat!” timpal Ari, sembari menduga ayah kawannya itu pejabat negara yang suka diberitakan koran diduga korupsi.

“Puteh kah siblah u, puteh long ma-ma du-du,” kata teman Isan suatu hari dengan logat Aceh yang terbata-terbata. “Maklum, Yah ke bule. Emak ke selalu naik mobil. Apalagi ke, setiap hari diantar-jemput dengan mobil. Sedang aku hanya bersepeda, dan bahagia,” sahut Isan dengan bangga.  

Maka bila dicocok-cocokkan, orang yang melontarkan ungkapan “siblah u ma-ma du-du”, ia bersifat angkuh atau sombong. Keangkuhan itu tak bertahan lama. Ia akan runtuh suatu saat. Kesombongan dapat menjatuhkan si majikan, seperti senjata makan tuan.

Hari ini Ari boleh bangga menjadi pemuda pertama yang punya dua mobil sport di kampungnya, di mana ia menyombongkan diri dengan tak mau memboncengi orang lain, kecuali pacarnya. Tapi suatu saat, harta itu akan melayang. Bisa-bisa ia celaka di jalan, bahkan hartanya melayang sekaligus dengan nyawanya.

Ini hari Je boleh bangga dengan kegantengan dan kekayaannya. Suatu saat, semua itu lenyap jika tak dipergunakan pada kebaikan. Akan ada musibah yang membuat ia ingat Tuhan—ingat Tuhan ketika menderita, setidaknya.

Kali ini oknum-oknum di Aceh boleh bangga dengan jadi ditundanya Pilkada, misal. Tapi bangganya itu hanya tinggal siblah u saja suatu saat. Ini zaman, oknum-oknum di Aceh boleh lega dengan tidak jadi ditundanya Pilkada, tapi kelegaan itu akan tinggal siblah u saja suatu hari.

Maka, kebaikan itu harus ma-ma du-du. Sedang hal tak baik siblah u saja. Jangan angkuh jangan sombong. Beranimu hanya siblah u, berani orang lain ma-ma du-du. Ini berlaku jika mau memahami kalimat: di atas langit ada langit.[]

(CP HA 16/11/11)

 

Lotre Gubernur


PENDAFTARAN bakal calon gubernur dan wakil gubernur pascaputusan sela Mahkamah Konstitusi telah ditutup pada 10 November 2011. Ditambah yang mendaftar sebelum turunnya putusan sela, maka sudah mencuat empat bakal calon gubernur dan wakil gubernur Aceh periode 2012-2017. Keempat pasangan itu, Muhammad Nazar-Nova Iriansyah, Irwandi Yusuf-Muhyan Yunan, Ahmad Tajuddin (Abi Lampisang)-Suriansyah, dan Darni Daud-Ahmad Fauzi.

Jumlah itu kontras dengan prediksi sebagian masyarakat Aceh kalau pemilihan orang nomor satu Aceh akan banyak yang mencalonkan diri. Barangkali seperti pelanggan yang mengharapkan uang tunai sepuluh ribu dalam makanan ringan dimana pada kemasannya bertuliskan “raih hadiah langsung uang tunai mulai seribu sampai sepuluh ribu rupiah”, namun ketika dibuka malah mendapat tiga ribu saja.

Di balik kemasan politik itu, ada hal menarik lainnya dalam bursa kandidat gubernur Aceh kali ini. Ada ilustrasi seperti anak-anak membeli lotre berhadiahkan macam-macam mainan di dalamnya.

Kisah pembeli lotre

Anak-anak sangat menggemari lotre, sebagaimana Karun yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Suatu hari ia merengek pada ibunya, minta duit untuk beli lotre. Ia cemburu pada rekannya yang sudah duluan beli lotre. Sang ibu senang memberikannya dengan harapan si anak makin mencintainya.

Karun kemudian menuju kios tempat kawannya membeli lotre di sudut kampung. Karun sebagaimana rekannya, mengharapkan dengan beli lotre dapat nomor tertentu yang berhadiah besar.

Kebanyakan pembeli lotre menginginkan dirinyalah yang harus dapat nomor satu, karena disediakan hadiah cuma-cuma berupa (misal) jam dinding, mobil-mobilan, handuk, atau pistol mainan. Pembeli lotre seperti kecewa berat ketika hanya mendapatkan nomor terbelakang, misal meraih nomor 36 sampai 100 yang hadiahnya sama: sehelai kartu gambar atau sebuah gasing.

Karun tiba. Anak-anak lain sudah lebih dulu membelinya. Ia mendapati hanya dua raut muka: murung dan ceria. Lalu ia membeli lima kupon lotre dengan uang lima ribu rupiah dan berharap akan berwajah ceria. Tapi Karun kecewa kemudian, ia gagal meraih cita-cita itu. Ia hanya dapat nomor terbelakang.

Bukan pembeli lotre sejati namanya kalau mudah menyerah. Gagal sekali, Karun mencoba lagi. Dari kios penjual lotre, ia pulang ke rumah. Lalu meminta uang lagi pada ibunya. Namun tak diberikan. Karun merewel dengan gulir-gulir diri di lantai rumah. Ia sangat menginginkan hadiah utama. Ia menangis sampai sang ibu memberinya uang lagi. Sekasar apa pun seorang ibu, luluh juga hatinya. 

Mendapat kesempatan kedua, Karun lari ke kios penjual lotre seraya melompat-lompat dengan gembiranya. Di sana ia beli lagi. Lima ribu rupiah untuk lima kupon. Ia sempat senang ketika membuka kupon terakhir yang mulai tampak angka satu. Ia girang dan melompat-lompat. Padahal dia belum tuntas membuka gulungan kupon itu. Begitu melanjutkannya, ia tertunduk lesu. Angka 91 ternyata.

Usaha pertama dan kedua gagal. Karun mencoba kali ketiga. Ia seperti memegang anggapan sebagian orang, bahwa percobaan ketiga bakal sukses. Namun Karun tak lagi punya uang. Ia hendak pulang minta lagi pada ibunya. Tapi enggan dilakukan. Ia berinisiatif mengutang saja. Ya, dia kemudian mengutang. Beli lima lagi. Dan, ia kembali mendapat nomor kurang beruntung. Dia pulang ke rumah dengan wajah murung. Ke depannya, ia cuma punya dua pilihan: mencoba lagi atau berhenti saja.

Kandidat gubernur

Dulu, sebelum dibuka pengambilan formulir pendaftaran bakal calon gubernur, ada beberapa kandidat muncul selain keempat pasangan di atas. Ada Tarmizi A Karim, Otto Syamsuddin Ishak, Udin Pelor, Yusra Habib Abdul Gani, dan lain-lain. Selama itu, sepertinya posisi mereka sama dengan Karun si anak pembeli lotre.

Mereka diduga kuat sangat menginginkan hadiah utama, yaitu kursi nomor satu di Aceh. Ketika menang lotre, malahan bukan hanya memeroleh kursi, tapi juga akan mendapatkan mobil dan rumah mewah. Barangkali karena amat memimpikan hadiah utama itu, semua kandidat berlomba-lomba membeli “lotre”.

Dalam hal ini, rakyat adalah penjual lotre, timses kandidat adalah ibu si Karun, angka adalah hati rakyat. Lalu mereka berlomba-lomba membeli lotre. Dimintanya timses bantu mereka mencari dana dan dukungan lain. Sebagian kandidat mencetak spanduk, kalender, dan kaos bergambar kepala mereka dengan janji-janjinya lalu membagi-bagikan kepada rakyat secara cuma-cuma. Rela menghabiskan banyak uang demi mendapatkan angka satu.

Sementara bagi yang kurang mampu di segi finansial, cukup meramaikan saja, dengan membeli barangkali satu atau dua lembar kupon saja. Kemudian mereka dapatkan kartu gambar yang barangkali bisa dipakai untuk melepas jenuh kemudian hari.

Selama bersaing, satu per satu kandidat gugur pada pendaftaran atau tak jadi maju. Yang gugur itu sama nasibnya seperti Karun. Sudah mencoba berkali-kali namun belum beruntung juga. Padahal sudah banyak menggelontorkan dana. Namun pada akhirnya, sampai hari penutupan pengambilan formulir, hanya ada beberapa nama yang bertahan.

Dan kini sudah memasuki “grandfinal” yang akan digelar pada 16 Februari 2012. Hanya ada empat calon gubernur: Irwandi Yusuf, Muhammad Nazar, Abi Lampisang, dan Darni M Daud. Mereka juga patut diduga sangat menginginkan hadiah utama, yaitu kursi nomor satu di Aceh.

Berharap saja ketika di antara mereka mendapatkan hadiah utama, semoga memperlakukan hadiah itu dengan sangat baik. Misal hadiah utama itu berupa sehelai handuk, barangkali yang pertama dilakukan adalah mengelap tubunya. Setelah itu mengelap tubuh timses yang telah membantunya.

Baru kemudian ketika banyak benih penyakit kulit menempel di bulu-bulu handuk, dilemparkanlah buat rakyat yang telah menanti-nanti giliran menikmati handuk tersebut. Pun begitu, kita berharap yang terpilih nanti pemimpin yang mau mengeringkan tubuh rakyatnya terlebih dahulu, baru diri dan timsesnya.[]

Penulis adalah mahasiswa prodi Jurnalistik Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry

(Opini Serambi Indonesia 12/11/11)

Angpau


Enaknya menjadi anak-anak, terutama ketika lebaran tiba: celengan bakal penuh; cita-cita membeli sesuatu bakal tercapai; ke rumah siapapun mengharap angpau alias salam tempel. Itu pula yang membuat Je dan Ari muda ingin kembali ke masa kanak-kanak.

Hingga hari ini, Idul Adha 1432 Hijriah ketujuh, Je tak mendapat rupiah sepeserpun. Tiada angpau, tiada daging kerbau. Kecuali pikiran yang kacau. Malah ia dilirik-lirik para bocah dan ibu-ibu rumah tangga.

Kini giliran Je yang harusnya tangan di atas, memberi angpau kepada keponakan, anak-anak tetangga, dan barangsiapa yang berhak lainnya. Maklum, sejak setengah tahun lalu, Je sudah ketahuan orang kampung kalau ia sudah bekerja sambil kuliah. Dan tak perlu diumumkan di meunasah, warga sudah tahu kalau Je anak si pulan sudah bergaji. Bolehlah.

Sudah dua lebaran dilalui Je demikian. Ia pun maunya sudah jadi pengantin baru jika mengingat dirinya tak mendapat angpau karena sudah berstatus pekerja. Bagi pengantin baru di Aceh, selama hari raya, mempelai pria akan berkunjung ke rumah saudara mempelai wanita. Begitu juga sebaliknya.

Nah, di akhir dari bertamu, saat hendak pamit, kedua pengantin baru akan dipeureugam (disalamtempelkan) oleh tuan rumah. Bayangkan ada berapa rumah yang dikunjungi selama lebaran. Hitung-hitung, lumayan juga dapatnya. Ha-ha. Asyik kan? “Hanya sesaat,” batin Je. Ia pun melupakan kawin muda, tetapi tuntutlah ilmu lebih dulu.

Lain lagi dengan pikiran Ari. Ia juga mengalami hal yang sama dengan Je dalam dua lebaran terakhir. Ketika mengingat tak mendapat angpau, Ari maunya jatuh sakit ketika hari raya. Lalu meminta barangsiapa orang terdekatnya agar mengumumkan pada siapa saja bahwa ia lagi terbaring sakit di rumah orangtuanya di kampung.

Ari sudah bekerja, sudah gajian. Lebaran haji ini ia berencana tak mudik, mengingat banyaknya kemenakan dia di kampung. Ada 20 lebih. Maka setidaknya ia harus menyediakan angpau Rp100 ribu untuk masing-masing lima ribu. Itupun mendapat cibiran, jumlahnya sangat kecil, kata keponakannya nanti.

Namun Ari pulang kampung juga, pas setelah mendapat setengah dari gajinya karena tempat ia bekerja sedang krisis moneter. Nah, ketika pulang, ia mendoakan agar mengalami kecelakaan supaya banyak yang menjenguk nantinya lalu mendapat uang. Tapi Tuhan tak mengabulkannya. Barangkali, Ari sudah saatnya belajar menjadi dermawan, meski hanya untuk sekawanan anak-anak saudara kandungnya.

Dan beberapa hari di kampung, tiga hari raya, tak seorangpun tamu menyalaminya kali kedua, di mana biasanya, jabat tangan kedua saat pamit pulang itu akan dipeureugam. Ari merasa sedih, padahal itu tak perlu. “Justru kamu harus banyak-banyak peureugam (memberi),” anjur Je, meski ia tak melakukannya, alias yue-yue gop manteng.

Karena itu, Je dan Ari teringat masa kecil mereka. Ketika lebaran, mendatangi setiap rumah, terutama rumah orang kaya. Selain banyak kue lebaran di mana kacang-kacangan bisa masukin kantong baju untuk dibawa pulang, juga berharap banyak diberi uang. Namun pada kenyataannya, mereka lebih banyak merepet begitu keluar rumah orang kaya. “Orang kaya pelit, masa angpaunya segini?” gugat mereka dalam bahasa Aceh yang kental.

Ah, itu masa lalu Je, Ari, dan anak-anak Aceh lainnya. Kini, barangsiapa, mari berderma. Sesekali tangan di atas, bukan selalu tangan di bawah. Dengan filosofi lain, ibarat sekaleng yang penuh dengan kue lebaran: kita harus mengosongkannya sedikit-sedikit agar bisa memuat yang baru.[]

(CP HA 12/11/11)

 

Tanggal Cantik


Pak Sule kecewa berat. Cita-citanya menikah pada tanggal cantik: 111111 (11 November 2011) tak tercapai. Namun ia tak kecewa amat. Sebab andai jadi, itu pernikahan keduanya pada tanggal cantik.

Sebelumnya ia menikahi Buk Fatimah pada 090909 (9 September 2009). Lalu mereka dikaruniai anak pertama pada 101010 (10 Oktober 2010). Karena tak cukup satu, dosen muda itu ingin menikah lagi, memiliki istri lebih dari satu. Rencana itu tak diketahui istrinya.

Pagi tadi, Sule ke Masjid Raya Baiturrahman. Menghadiri acara pernikahan kawannya yang harus antrean bersama puluhan pasangan lain. Melihat kawan melafalkan ijab kabul pada tanggal cantik, terbersit di pikirannya untuk kawin lagi.

Ahha, saya punya kesempatan sekali lagi. 12 Desember 2012,” ia berteriak dengan bangganya, tapi dalam hati. Ia pun berkeinginan kawin lagi pada tanggal cantik berikutnya: 121212. Ia bertekad meramaikan salah satu fenomena sosial itu lagi tahun depan.

Ah, jika gagal pada tanggal itu, Sule sudah berpikir: harus menunggu seribu tahun lagi. Misal menikah pada tanggal 8 bulan 8 tahun 3008 (080808). Atau menikah pada tanggal 11 bulan 11 tahun 3011. Sebab tak ada tanggal 13 bulan 13 jika mau di tanggal cantik 131313. Tentunya kalau belum kiamat dan panjang umur.

Namun Sule berubah pikiran kemudian. Khutbah Khatib Jumat telah memperdaya cita-cita pria berkumis lebat itu. Kata khatib, menikah pada tanggal cantik hanya sebatas tanggal cantik saja, tapi tak membuat hidup pasangan itu “cantik”. Apalagi jika menikah terpaksa “dicantik-cantikkan” pada tanggal berangka kemiripan.

Lihatlah, kata Khatib. “Sebanyak 30 pasangan yang saya nikahkan pada tanggal 090909 dan 101010, masing-masing hanya 5 pasangan suami istri yang bertahan hingga setahun kemudian. Broken home,” kata Teungku Khatib memakai bahasa Inggris untuk menyebut “perceraian”.

Itu membuktikan kalau menikah pada tanggal cantik tak menjamin kehidupan rumah tangga mereka berjalan “cantik”. Kenyataan itu juga menunjukkan kalau bagi suami-suami di Indonesia belum masanya memliliki istri lebih dari satu jika tak sanggup menafkahi lahir dan batin secara adil, setidaknya mendekati adil.

Sule tertegun mendengarnya. Ia pun mengubah cita-cita. Membatalkan rencana kawin lagi pada 121212. Tapi, ia akan segera mengatakan pada istrinya, “Dek Fatimah, Abang ingin kita punya anak lagi pada tanggal cantik tahun depan: 121212.” Oya? “Ah, Ayang bisa aja. Lebay deh.”[] 

(CP HA 11/11/11)

Malu Jadi Petani


Sebagian pemuda atau remaja Aceh malu menjadi petani. Mahasiswa ketika ditanya profesi orangtuanya oleh dosen saat hari pertama masuk di semester baru, malu menyebut ayah atau dan ibunya petani. Padahal biaya kuliah mereka diperoleh dari ie blang (air sawah).

Aya lahir di kampung berpenduduk mayoritas masyarakat tani. Semasa Sekolah Dasar, ia sangat suka ke sawah. Apalagi ketika padi mulai lebat, ia sering jak paroh tulo (mengusir pipit) sembari santai di jambo. Namun, begitu masuk Sekolah Menengah Atas, ia mulai tak suka lagi ke sawah.

Di usia Anak Baru Gede (ABG), Aya makin tak suka ke sawah. Tak boleh lagi kena ie blang. “Iii, jorokkk, luhop,” katanya ketika melintasi pematang saat sesekali mengantar makan siang untuk ayahnya. Aya takut kuku kakinya ceumeukam.

Ceumeukam merupakan penyakit peradangan kuku akibat pertumbuhan daging yang tak sempurna pada kuku, biasanya pada jempol. Dalam bahasa ilmiah disebut paronychia. Ia bisa berinfeksi (bernanah bahkan berdarah) setelah terkontaminasi bakteri.

Karena takut terkena paronychia, Aya dan kebanyakan remaja Aceh lainnya jadi tak suka ke sawah. Soal itu lumayan dimaklumi. Tapi keterlaluan ketika ia gengsi gede-gedean untuk mengakui ayah atau ibunya adalah seorang petani. Apalagi ia sedikit rupawan: punya kecantikan yang dicantik-cantikan, punya kegantengan yang diganteng-gantengkan.

Namun, ada penyebab lain yang membuat orang tak suka jadi petani, yaitu status sosial. Petani dianggap lebih rendah dari profesi lainnya. Ada pula yang membenci petani. Padahal kalau “manusia tanah” itu tak ada, mereka—terutama yang beli beras—bakal mati kelaparan.

Pada pucuk Oktober 2011, Je menjelajahi Brunei Darussalam. Ia tercenung setelah menelaah ceramah Imam Masjid Jame Ashar Hassanil Bolkiah, Dato Seri Setia Awg Haji Lamit bin Haji Ibrahim, saat perayaan Hari Petani dan Nelayan di sana, Senin (31/10).

“Menjadi seorang petani atau nelayan adalah pekerjaan saleh. Kalian harus bangga, sama seperti saudara kalian yang bekerja sebagai guru, dokter dan profesi lainnya,” kata Dato Seri Setia, sebagaimana diberitakan Republika Online, Selasa (1/11).

Pertanian, peternakan dan perikanan membawa peluang besar bagi komunitas Muslim untuk menciptakan peluang kerja dan investasi. Apalagi industri produk halal tengah berkembang di dunia.

“Pertanian, peternakan dan perikanan merupakan sumber daya yang harus dimanfaatkan dengan bijak. Ketiga sektor itu kini menjadi lebih dikomersialisasikan, berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi,” kata Dato. 

Menjadi seorang petani atau nelayan setara dengan profesi lainnya, karena kata sang imam, Allah SWT memberikan rezeki bagi hambanya yang hendak bekerja keras. Semua itu disampaikan Dato karena selama ini ada warga Brunei Darussalam yang malu jadi petani.

“Bereh, bagus,” komentar Je, setelah mengunjungi salah satu negara Asia Tenggara itu melalui dunia maya. Ha-ha. “Nah, masih malu mengaku orangtua kita petani? Masih malu menjadi patani?” kata Je pada Aya yang kuliah di Manda, ucapan sebagian orang Aceh untuk Kota Banda Aceh.[]

(CP tak lulus)

 

Bapak Rumah Tangga


Krisis ekonomi telah membalikkan suatu kebiasaan di Aceh. Banyak suami-suami menjadi Bapak Rumah Tangga (BRT), apalagi suami-suami takut istri.

Dari 4,5 juta penduduk Aceh (data BPS 2010), sepertinya, satu dari sepuluh suami menjadi BRT. Seperti Pak Sule. Istrinya seorang guru. Maka begitu Buk Fatimah berangkat ke sekolah jam delapan pagi, Pak Sule “ditugaskan” menjaga anak-anak.  

Buk Fatimah pulang jam satu siang. Ia pun meminta suaminya melanjutkan jaga dua anak mereka, sembari menunggu makan siang siap saji, setengah jam kemudian. Sudah itu, keduanya makan. Si istri merasa kecapaian. Kemudian tidur. Pak Sule kembali diminta menjaga anak-anak.

Kebiasaan itu terus berlanjut hingga genap tiga tahun usia pernikahan mereka, tepatnya ketika Buk Fatimah sedang menghamili calon anak ketiga.

Tak mau dijadikan “baby sitter”, Pak Sule pun berpikir mencari pekerjaan. Ia mengikuti tes Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS), bermodal ijazah S1 (sarjana) dari Fakultas Keguruan sebuah perguruan tinggi di Aceh.

Itu derita Pak Sule. Lihatlah di Inggris. Krisis ekonomi global yang belum sepenuhnya pulih membawa akibat lain di negeri Britania Raya itu: meningkatnya jumlah pria menganggur dan tak lagi menjadi pencari nafkah utama. Survei terbaru menyebutkan, satu dari tujuh suami di Inggris kini menjadi BRT. Lebih parah.

Kini, terdapat sekitar 1,4 juta pria yang menjadi penanggungjawab urusan domestik–mulai memasak hingga pengasuhan anak. Angka ini meningkat dua kali lipat dari dekade lalu.

Seperti diberitakan Republika Online 25 Oktober 2011, di antara mereka, 43 persen mengaku beruntung mempunyai kesempatan untuk tetap tinggal di rumah dan menonton anak-anaknya tumbuh. Namun 46 persen menyatakan, mereka menjadi BRT karena terpaksa dan ingin kembali bekerja sebagai pencari nafkah utama.

Penelitian juga menyebut, ada perubahan pola pengasuhan anak di Inggris dari semula 100 persen ditangani istri menjadi ditangani suami. Satu dari lima BRT merasakan hal ini sebagai ‘mengurangi nilai kelelakiannya’.

Namun, satu dari delapan pria menyatakan merawat anak adalah pekerjaan berat, lebih berat dari mengelola pekerjaan formal mereka sebelumnya.

Maka begitu Pak Sule lulus tes CPNS di kali kedua, segera mengajukan diri jadi guru honorer di sekolah tempat Buk Fatimah mengajar. Biar bisa barengan, dalam hal apapun. Lalu, anak-anak? Pasangan suami istri (pasutri) muda itu menitipkannya ke playgroup. Lebih bagus, dibanding ke orangtua (nenek si anak) mereka.[]

(CP HA 31/10/11)