Hati yang Buntung V


Marlina. Aku lelah mencari pusaramu, seperti mencari batu delima di sungai yang dalam. Kau tahu, Marlina dan aku seperti sendok dan garpu yang dipertemukan dalam piring duralex. Tapi gelombang itu tanpa ampun merenggut garpuku. Maka berat bagiku sejenak berpaling pada yang lain, misal padamu. Continue reading “Hati yang Buntung V”

Advertisements

Istriku Masuk Koran


Bahwa jaman tak berubah. Hanya wajah dan pikiran manusia saja berganti. Orang-orang di negeriku juga telah alami itu, seperti koran-koran yang berinovasi dan perempuan-perempuan yang menginginkan tubuhnya tampil di surat kabar itu.

Sebenarnya mereka tetap pada jaman usang. Namun penampilan, pikiran dan cara bertindak yang berbeda, sehingga orang-orang berpikir bahwa jaman telah berubah. Sehingga lembaga-lembaga, media-media, gadis-gadis, pemuda-pemuda dan usia segala usia berinovasi supaya tampil beda lalu dipuja-puja.

Nur tak mau begitu. Ia perempuan desa. Dibiarkan dirinya alami ibarat buah terbungkus dedaunan. Ia tunaikan hari-harinya di kaki bukit dengan sesering mungkin membaca Al-Quran, seperti yang sudah dilakukan saat subuh tiba—ia lebih bahagia jika orang negerinya mau baca kitab suci itu di selain dalam bulan Ramadhan.

Rutinitas Nur adalah memandikan kerbau. Seperti suatu pagi yang dingin ia memandikan kerbau milik ayahnya; jantan dan betina. Mungkin saja di pagi hari remaja putri seusianya sedang larut merias diri depan cermin, lalu berangkat ke kampus atau tempat kerja: mereka siap melayani dan barangkali dilayani. Atau barangkali masih dalam selimut di atas kasur springbed yang empuk—perempuan malas!

Air sungai menyapu betisnya dengan kaki berpijak pada bebatuan lebar nan licin. Ia mencari-cari pijakan kasar sembari terus menyiram badan dua kerbau berkulit hitam pudar dengan guratan merah jambu—peternak sapi meyebutnya gapi—di berbagai bagian tubuhnya. Warna seperti warna orang yang ditiru orang-orang negerinya itu menempel di bawah perut, tepi mulut, sekeliling paha, dan sedikit di kaki.

Tubuhnya basah oleh guncangan tubuh kerbau jantan, seperti basahnya orang-orang di negerinya oleh tipuan janji-janji pemimpin dan calon pemimpin yang sebentar lagi bakal dicontreng yang mungkin contrengannya kena di hidung jambu mereka, mata licik mereka, kepala dangkal mereka.

Sinar mentari mencuri kesempatan guna panasi kulit putih gadingnya di sela-sela percikan air oleh hentakan ekor kerbau betina. Buru-buru digaruk-garuknya tubuh kerbau dengan busa-busa sabun sehingga menyisakan wewangian, mungkin sekali seperti dilakukan gadis-gadis seusianya supaya tampak berkilau dan barangkali bisa terlihat seperti model lalu dilirik sorotan mata dan lensa kamera wartawan, kemudian diwawancarai dan esoknya berpose di halaman koran dengan memegangi produk orang-orang berkulit seperti kulit kerbau ayahnya. Dengan itu, mungkin mereka bakal sombong.

“Dek Nur, bagah (cepat). Rombongan linto baro katroh (mempelai pria sudah tiba),” seperti suara Kak Nong di atas sana, di antara kicauan burung rimba. Ya ternyata. “Get (baik),” sahutnya keras, supaya tak terkalahkan oleh gemericik derasnya aliran sungai.

Kemudian Nur segera pulang. Tak butuh banyak waktu sampai di kandang kerbau, cuma lima menit jalan kaki, tambah dua menit lagi karena menarik kerbau dengan tambang yang mengalung simpul lehernya.

Usai mengandangkan kerbau di belakang rumah, ia masuk lewat pintu belakang agar tak terlihat tamu, bukan malu, tapi tak enak dengan ibunya. Pun begitu, nyaris saja ibu melihatnya.

Kemudian mandi sekejap di kamar yang terletak jauh dari ruang tamu. Sudah itu memaki baju terbagus yang dipunya. Kebaya merah jambu. O, bukan merah jambu, sebab itu warna kulit orang-orang yang digemari orang-orang di negerinya. Ia mengenakan kebaya putih, tapi warnanya mulai menguning oleh air sungai saat dicucinya dua kali dalam setahun selama tiga tahun terakhir—memakainya saat lebaran Fitrah dan Haji saja.

Kemudian bercermin: ia melihat wajahnya bulat dan putih gading, hidung mancung, gigi rata, mata lentik, rambut panjang lurus, pipi oval dan dagu belah tengah, alhamdulillah. Kemudian ia duduk di kamar dengan ibu dan kakaknya. Sementara di ruang tamu, abangnya sedang menjadi wali pernikahannya. Ia mendengar suara Sulaiman—namaku, hari itu sebentar lagi jadi suaminya—mengucapkan ijab kabul. Senang dirinya tapi penasaran bagaimana wajahku.

Begitu akad nikah usai, ia diminta keluar untuk melihatku yang pertama kali. Sebelumnya kami tak pernah ketemu, kecuali ia mendengar suaraku saja saat berbicara dan kupinangnya di balik kain hijab di rumahnya beberapa hari sebelum pernikahan. Dari suaraku, ia berpikir kalau aku tak ganteng, tapi ah, ia tak peduli itu. Ia cuma mengharapkan aku punya kekayaan seperti Nabi Sulaiman, sesuai namaku. Mungkinkah?

Ternyata dilihatnya, aku berhidung mancung, kulit kuning langsat, tinggi tegap, mata coklat, berbulu rebah. Begitulah aku—kemudian hari ia tahu bahwa aku seorang toke kerbau dan membuatnya kian bahagia. Ia tersenyum-senyum dengan berdiri di antara ibu, keluarga dan tamu. Ia menyatakan makin mencintaiku. Lalu diciumnya tanganku di antara senyuman tamu.

Hari itu tak ada yang memotret, tak ada kilatan sustel atau kamera digital, sesuai permintaan Nur, karena ia perempuan paling antikamera. Mungkin cuma dia perempuan antikamera di dunia ini.

Namun seketika itu, dua lelaki masuk rumah. Mereka seperti membawa kamera. Bergantung sesuatu di leher. Ia gamang. Juga aku. Tapi tamu malah senang. Siapa mereka? “Kami wartawan sebuah media lokal. Ingin mewawancarai kedua mempelai. Kami melihat banyak keunikan di sini. Dan cuma ada di sini! Apa boleh?” kata seorang di antara mereka.

Nur segera melepas tanganku. Keluar rumah. Ambil sandal. Ia lari. Aku panik sebentar. Aku, abangnya, dan beberapa orang kampung mengejarnya kemudian. Kami meliuk-liuk dalam sela-sela rimba sekitar kampungnya yang terpencil—sinyal hape saja susah dapat. Kami berteriak, memanggilnya.

Hari itu, aku sangat sedih dan seperti dihujam dengan timah panas di dada andai tak melihatnya lagi.

Tapi sejam usai mencari, akhirnya kami dapatkan juga. Tapi ah, Nur di bawah sana. Di atas batu besar di sisi jatuhnya air terjun yang menderu dan deras. Nur tergeletak kaku. Kami kemudian mendapatinya tak bernyawa, kepalanya berdarah. Padahal aku ingin sekali melantunkan Al-Quran bersamanya, apalagi dalam bulan Ramadhan. Demikian cerita ini, seperti diberitakan sebuah suratkabar tahun lalu.[]

Penulis adalah pegiat di Komunitas Menulis Jeuneurob

(Cerpen HA 14/8/11)

Bupati Sandal Jepit


Barangkali penyair akan menulis dalam sajaknya, Sepasang sandal jepit ibarat sepasang kekasih. Keduanya tak bisa dipisahkan. Tatkala satu hilang, satu lagi tak berfungsi. Tapi bukan itu tujuan Sami menukar sandalnya dengan sandal orang.

Senja itu, Sami sedang di halaman surau kampung sementara jamaah tengah menunaikan salat magrib. Dia memilih-milih beberapa sandal dari dua puluhan pasang tersedia. Ia tak melirik yang bagus. Hanya memungut sandal jepit tua, jika sesuai seleranya—tebal—maka akan ditukar dengan sandal tempurung kelapanya. Kalau tidak, ia damparkan pada asalnya. Boleh jadi, Sami tak berniat mencuri, tapi menukar.

Jamaah magrib sudah duduk tahyat akhir. Sami tahu kalau itu rukun salat terakhir, tapi ia tak terlihat kalut atau was-was. Namun demikian, ia kudu tangkas. Begitu salam pertama, lekas ia kutip sepasang sandal jepit tua dengan warna putih di atas dan merah di bawah. Lalu ditaruhnya sepasang sandal tempurung kelapa—tempurung kelapa kukuran dibelah dua lalu masing-masing bagian tengahnya dilubangi sebagai penghubung tali rafia. Sudah itu, ia rapikan kembali susunan sandal yang tadinya berserakan. Ia hilangkan jejak. Segera ia pergi dengan wajah sumringah. Tak dipikirnya reaksi jamaah nanti.

Esok pagi, pulang sekolah, Sami mengambil sandal jepit yang ditaruhnya di bawah vas bunga kertas; itu dilakukan malamnya agar orangtuanya tak tahu kalau ia telah menukar sandal atau mungkin sekali menuduhnya mencuri. Lalu Sami keluar rumah tanpa sepengetahuan ibunya yang sedang masak di dapur dengan menggunakan kayu bakar yang oleh ibunya mendapatkan bahan bakar itu sama seperti Sami memeroleh sandal jepit tua, yaitu ibunya pergi ke kebun orang yang sepi dengan membawa dua kelapa tua, bila ada kayu bakar diambilnya sementara kelapa tua tadi ditaruh di tempat kayu bakar itu.

Sami diam-diam bergegas ke rumah temannya, Napi, sekira dua lorong dari rumahnya. Di sana, Napi yang hitam legam sudah menunggu di balai kecil dalam pekarangan rumah dan di bawah pokok jambu merah. Sami tiba. Mereka berpelukan layaknya dua sahabat lama baru bertemu lagi barangkali setelah 10 tahun berpisah, padahal mereka baru saja jumpa di sekolah paginya.

Napi menyuguhi Sami jambu merah. Ada-ada saja ah, Sami juga mengeluarkan tomat kembang delapan kesukaan Napi dari sakunya, tomat itu diambil Sami dari kulkas saat ibunya sedang di toilet. Mereka mengunyahnya dan tertawa. Lalu?

Segera mereka lemparkan masing-masing sepasang sandal jepit tua ke lantai balai dari rajutan bambu kecil yang dibelah-dibelah dan diraut, barangkali gaya mereka ibarat lelaki dewasa melemparkan kartu remi ke meja judi! Seterusnya mereka keluarkan dua pisau lipat dan dua lipstik—Napi mengambil lipstik ibunya yang sampai siang belum pulang dari kantor.

Mereka mengambilnya masing-masing satu. Mereka hendak melubangi sandal jepit itu seukuran kelereng. Yang tercepat, dua pisau lipat dan dua lipstik itu boleh dimiliki seumur hidup. Mereka bersaing, barangkali seperti di film Police Story, Jackie Chan berlomba bongkar pasang pistol dengan perampok bertopeng, dimana yang tercepat bisa menembak dua teman lawan.

Sami yang kurus dan Napi yang gemuk itu melubanginya dengan cermat dan berusaha tidak tersayat jemari karena keduanya takut melihat darah. Mereka menyudahinya sepuluh menit. Temponya imbang. Mereka sama kuat. Mungkin juga demikian jikalau dewasa nanti mereka bersaing mencalonkan diri sebagai bupati dan memeroleh suara yang sama.

Selesai. Dirapikan balai. Disumpal sampah ke salah satu lubang  galian ayahnya supaya air tak tergenang di pekarangan ketika hujan mengguyur. Di antara berbagai pakaian, bagi keduanya yang terpenting adalah sepasang sandal jepit tua berlubang di bagian tengahnya. Misal mereka harus telanjang bulat pun tak soal, yang penting sandal jepit itu.

Mereka pergi ke utara kampung. Menuju lahan kosong yang sering dipakai bocah laki kampung untuk main bola kaki atau lompat rantai karet bagi bocah perempuan. Dan, mereka tak bawa apa-apa ke lapangan kosong itu. Mereka menyusuri jalan kampung seraya menyepak-nyepak batu kecil layaknya pemain bola di lapangan hijau. Ah, mereka bagai calon bupati atau wakil bupati yang membawa berkas dukungan ke kantor Komisi Independen Pemilihan saja.

Sami tiba, tentu juga Napi.

Dua kelompok terdiri dari belasan bocah kampung tengah bermain kelereng dengan berbagai macam model permainannya. Mereka menatap sinis Sami dan Napi yang berlagak anak bodoh dan sok menonton.  Mereka tak mengajak keduanya bertanding; rahasia umum di kampung itu kalau Sami dan Napi tak bisa main kelereng, tapi setiap keduanya hadir ke lokasi permainan selalu ada kelereng yang hilang. Mereka pun kembali bermain.

Sami mendekati kelompok pertama yang main bidik tumpukan kelereng. Sedang Napi ke kelompok satu lagi yang bermain tembak kelereng dalam dua garis lurus. Mereka sepertinya hendak melaksanakan misi mereka: mengutip kelereng kesasar dengan lubang di sandal jepit.

Sesaat kemudian beberapa bocah di kelompok pertama kebingungan. Satu kelereng bidikan menghilang. Mereka mencarinya ke semak-semak dan ke sela-sela batang talas yang menumpuk di payau kering samping pokok kelapa. Sami melihat kelereng dimaksud di balik sehelai rumput, segera ia menginjaknya. Diulek-uleknya rumputan itu dengan pelan sekali. Cuma tiga gesekan sandal. Dia berjalan-jalan pura-pura mencari lagi kemudian, sampai mereka berhenti mencari dan lanjutkan permainan.

Napi tak ketinggalan. Ia melakukan sama dengan Sami. Malahan dua lubang di sepasang sandalnya sudah terisi. Ia tinggal menunggu Sami yang berhasrat menculik satu kelereng lagi. Dan sudah setengah jam keduanya belum dicurigai meski tiga kelereng belum didapatkan. Sebenarnya mereka bukan tak mencurigai, tapi sebelumnya selalu mencurigai, hanya saja tak ada juga kelereng pada Napi dan Sami. Tepatnya, mereka belum tahu kalau sandal jepit yang dipakai Napi dan Sami punya lubang pemangsa kelereng.

Sampai hari itu, hampir seratusan kelereng sudah Sami dan Napi peroleh dari sandal jepit itu. Namun bocah-bocah di kampung tak tahu ke mana kelereng mereka menghilang dan siapa pelakunya.  Juga orangtua mereka penasaran, kenapa hilang selalu sehingga harus merogoh kocek belikan anak-anak mereka kelereng baru justru pada kios yang memasok kelereng dari Sami dan Napi.

Semua orang kampung itu tak tahu perihal itu sampai hari ini, atau 40 tahun kemudian, dimana Napi dan Sami mencalonkan diri sebagai bupati dan wakil bupati melalui jalur perseorangan. Bahkan, keduanya kini malah memeroleh dukungan terbanyak dari kampung mereka, dari teman-teman tipuan mereka masa kecil.[]

Penulis adalah mahasiswa prodi Jurnalistik Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry kelahiran Desember 1990.

(Cerpen HA 24/7/11)

 

Pencuri Kambing


Dua pemuda mantan pencuri kambing duduk di balai jaga. Akrab sekali. Mereka telanjang kepala. Saling tatap muka. Merokok pula. Mereka berlomba-lomba membentuk asap seperti huruf “o”. Siapa yang bulatannya bertahan lama, “dialah yang bakal dipilih!” ujar Sulaiman pada Hasballah.

Mereka ingin mencalonkan diri sebagai kandidat ketua pemuda. Mereka tak khawatir kalau warga tak mau memilih. Perihal mencuri adalah cerita lama. Kini mereka, dalam sebulan terakhir tepatnya, sudah jadi remaja masjid. Ketika masuk waktu salat wajib, mereka rebutan mik di masjid. Berlomba-lomba jadi muazzin. Siapa yang paling banyak mengumandangkan azan, “dia yang akan dipilih!” kata Hasballah pada Sulaiman.

Rupanya, tingkah laku mereka selama ini menarik perhatian warga. Penduduk kampung dimana sang pemimpin kabupaten mereka itu lahir, yakin, bahwa kalau dijadikan sebagai ketua pemuda, tabiat Sulaiman dan Hasballah akan semakin berubah. Dan, kampung mereka akan memenangkan lomba kampung teraman dan terbersih yang diadakan setahun sekali oleh camat. Bahkan imam masjid, kepala kampung, dan perangkat kampung lainnya sudah mulai membicarakan dan berniat untuk mengangkat dua anak mantan pencuri kambing itu sebagai ketua pemuda. Namun segenap mereka bingung: siapa yang patut dipilih.  Hanya seorang yang diperlukan, sesuai peraturan.

“Lah, kau dengar kata imam masjid kemaren? Hanya seorang di antara kita yang bakal diangkat,” ucap Sulaiman. “Leman… Leman. Jelaslah. Karena itu, siapa yang bisa merebut hati warga, dialah yang bakal menang.” Hasballah melepaskan asap ke muka Sulaiman. “O, kalau begitu, aku punya ide. Lihat saja nanti,” janji Sulaiman, seraya merebahkan diri di pos jaga malam itu.

Setengah bulan jelang pemilihan, mereka berkampanye. Tapi tidak melalui panggung-panggung. Mereka mendekati warga di warung-warung. Ditanggungnya semua minuman pengunjung, siapa saja, dengan uang dari hasil panen cabai merah di kaki bukit. Tak sedikit mereka menyebut-nyebut program yang akan dilaksanakan seandainya terpilih.

“Jika abang-abang, ibu-ibu, adek-adek, kakak-kakak, dan kakek-nenek memilih saya, maka takkan ada lagi lubang-lubang di jalan kampung kita. Tak ada lagi anak-anak pengangguran. Saya akan buka kebun raya di lahan warisan ayah saya,” janji Sulaiman pada setiap orang yang ditraktirnya. “Saya bujuk Pak Camat untuk mendirikan gedung SMA di kecamatan kita, supaya anak-anak kampung kita tak perlu sekolah ke kecamatan tetangga. Saya bujuk Pak Camat yang merupakan bukan orang kecamatan kita itu untuk mendirikan pasar, agar kita tak perlu ke pasar kecamatan orang,” canang Hasballah pada setiap orang yang ditraktirnya.

Seminggu jelang pemilihan, warga kian bingung. Warga sudah melupakan masa lalu Sulaiman dan Hasballah. Warga bahkan sepakat tak mau memilh lagi ketua pemuda yang sedang menjabat ini, Bahrun, karena dinilai telah menipu warga; awal-awal memimpin mengagumkan, tapi mulai pertengahannya cukup membuat warga resah.

Sampai pada hari pemilihan, cuma ada tiga calon: Sulaiman, Hasballah, dan Bahrun. Sulaiman dan Hasballah yakin sekali kalau warga tak akan lagi memilih Bahrun; mereka menganggapnya tak ada. Bahrun santai saja menanggapinya. Malahan dia yakin kalau warga akan memercayainya lagi.

Detik-detik jelang pengumuman ketua pemuda baru, tiba-tiba polisi sektor datang ke lokasi pemilihan sekaligus pengumuman, di halaman masjid. Warga panik. Lalu polisi tanyai warga perihal dua pemuda yang suka mencuri kambing. Seketika, segenap warga menaruh curiga pada Sulaiman dan Hasballah yang sedang bincang-bincang sama Pak Camat, Bahrun, dan aparatur mukim dalam masjid.

Buru-buru aparat masuk ke masjid. “Kami meminta kalian berdua untuk ikut kami. Segera!” Kata seorang polisi. Sulaiman dan Hasballah, juga Pak Camat dan sejumlah perangkat kampung terkejut. Mereka memang sudah menduga dari dulu, kalau dua pemuda itu pura-pura baik selama ini. “Jangan salah paham, Bapak-bapak. Kami cuma ingin jadikan mereka berdua sebagai mitra kami. Kami ingin jadikan mereka sebagai detektif pencurian untuk mengusut kasus pencurian kambing yang sedang marak terjadi di kecamatan kita. Mereka ini kan sudah berpengalaman, jadi sudah tahu gerak-gerik dan ciri-ciri pencuri kambing,” jelas polisi. Semuanya lega. Bahkan Sulaiman dan Hasballah tak percaya.

Kemudian hari, selain merangkap jabatan sebagai ketua pemuda bagi Hasballah dan wakilnya bagi Sulaiman, mereka nyaris setiap hari bantu polisi memburu pencuri kambing, secara bergiliran. Puncaknya, tepat setahun kerjasama, Sulaiman berhasil bantu polisi menangkap seorang pencuri kambing lintas kabupaten paling diburu, yakni Bang Landok. Tapi Sulaiman bagai ditembak di kepala kala itu. Bang Landok adalah ayahnya yang meninggalkan dirinya dan ibunya lima tahun silam.[]

Penulis adalah mahasiswa KPI-Jurnalistik Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry dan anggota FLP Aceh.

(Cerpen Serambi Indonesia 26/6/11)

Semangka Kuning


Po Ramlah belum sanggup menyekolahkan satu pun dari kelima anaknya. Kini dia bercita-cita, setidaknya  Rasimah si  bungsu bisa menjadi pegawai negeri sipil. Janda itu berpikir perempuan muda masa kini yang berstatus PNS akan dengan mudah mendapat calon suami. Tak perlu dinanti, si calon akan datang sendiri. 

Po Ramlah pun berencana menyekolahkan Rasimah bulan depan. Harapannya, sebagaimana harapan warga lain di kampungnya, adalah  semangka yang sedang menjalar di sepetak sawah. Kalaulah orang lain kuasa menyekolahkan anak-anak mereka sampai ke perguruan tinggi dari hasil panen semangka setiap tahunnya, “Kenapa saya tidak?” gumam dia. 

Sepertinya cita-cita itu akan digapai Po Ramlah, karena sudah sebulan ini semangka yang ditanam dalam sepetak sawah sudah muncul buahnya seukuran lengan orang dewasa. Banyak pula. Ibarat gemintang bertabur di langit malam segala malam.

Tahun ini semua warga sepakat mengorbitkan semangka kuning; kulitnya hitam kehijauan, dagingnya kuning. Itu karena tahun lalu semangka kuning amat diburu muge–penggalas–dengan harga Rp 5 ribu per kilo. “Mahal sekali,” kata Po Ramlah. “Kita bisa naik haji usai panen,” sela tetangganya. Tapi warga kecewa tahun lalu. Mereka lebih banyak menanam semangka merah; mereka menyebutnya timon taiwan. Hanya Toke Lah yang menabur biji semangka kuning. Lelaki yang berani pada hal-hal baru itu pun mampu naik haji begitu panen semangka usai. Ia juga mampu menyekolahkan anaknya mengambil S2–magister–ke Negeri Jiran.

Warga riang sekali sebulan kemudian. Juga Po Ramlah. Lihatlah di persawahan kampung, semangka kuning sudah siap petik. Mereka pun sepakat untuk panen serentak, kecuali Toke Lah yang kali ini menanam semangka merah kembali. 

Hari pertama panen, warga girang, terutama Po Ramlah. Ia sudah menduga kalau selangkah lagi Rasimah  bisa duduk di bangku Sekolah Dasar. Hari kedua, warga mulai linglung. Semangka kuning yang disusun rapi di bibir jalan negara sudah ada yang lebam-lebam. Tak ada muge yang datang, tak seperti tahun lalu sang penggalas tak perlu diundang. Namun, mereka sedikit lega ketika ada pembeli yang melintasi di jalan Banda Aceh-Medan itu, berhenti, lalu mau membeli satu-dua buah dengan harga Rp 2 ribu per kilo, dari patokan semula yang bernilai Rp 5 ribu. Memang ada satu dua muge yang datang, tapi petani semangka itu tak mau menjualnya kalau di bawah harga Rp 5 ribu. Para muge pun tak mau ambil pusing, “Tahun ini lebih mahal harga semangka merah hai Po Ramlah,” seorang muge membocorkan rahasia. Mengetahui itu, Toke Lah tersenyum kecil sambil membersihkan semak di sela-sela batang semangka merahnya yang siap dipanen lusa.

Maka raut muka mereka di hari ketiga usai panen pertama kian cemberut. Tumpukan semangka kuning mulai membusuk. Pun terbersit di hati mereka, kenapa tak mau menuruti saran Toke Lah tiga bulan lalu saat sebelum menabur. Lantas, daripada membusuk semua dan tak ada uang sedikit pun, mereka menjual juga semangka kuning dengan harga di bawah Rp 2 ribu. 

Po Ramlah mengerang. Dia menangis di sudut rumah panggungnya. Rasimah sudah pasti tak bisa sekolah. Sebab, musim ini kali terakhir ia mawaih–menggarap sawah milik orang lain–pada Toke Lah. Tahun depan, “Mungkin saya lebih baik mengemis saja,” gumamnya. Warga lain pun demikian. Dan mereka iri pada Toke Lah yang kembali kaya raya tahun ini. Sebanyak 10 ton semangka dengan harga Rp 5 ribu per kilo, sudah cukup bagi Toke Lah untuk naik haji kali kedua dan menyekolahkan putranya ke luar negeri lagi.

“Jangan bersedih,” hibur Toke Lah suatu hari, “Po Ramlah bisa kembali menggarap sawah saya.”  Po Ramlah mengusap air mata. “Tapi dengan satu syarat,” kata Toke Lah. Apa itu? Po Ramlah tersenyum. “Rasimah yang cantik itu harus jadi anak angkat saya,” sahut pria berkacamata itu. Pok, Po Ramlah tersungkur dan tak bersuara di lantai rumahnya.
  
* Penulis adalah anggota Komunitas Menulis Jeuneurob dan Forum Lingkar Pena Aceh serta Rumoh Aceh Community

(Cerpen Serambi Indonesia 22/5/11)

Pak, Kita Cerai!


Hasballah hidup di mukim Sangalama. Rumahnya tegak di belakang rumah seorang anggota dewan. Anggota dewan terhormat  itu sangat terkenal di negerinya. Dia cerdas. Ditambah dukungan mereka padanya, dia pun dapat kursi di pusat. Penduduk Sangalama mengira kampung mereka akan maju setelah memilih sang dewan. Tapi lihatlah, rumah-rumah yang tumbuh di Sangalama masih seperti sebelum mereka memilihnya. Masih keriput, seperti tanaman kurang dipupuk, merana.

Sangalama tercatat dalam sejarah negeri sebagai tempat lahirnya orang-orang cerdas. Seperti sang dewan salah satunya. “Namun kalau kamu lihat sekarang, jalan mukim kami yang merupakan jembatan perekonomian warga; mandi debu kala kemarau, dan mandi lumpur kala hujan. Kami rasa soal jalan adalah keluhan usang dan konyol di mata orang. Tapi tanpa jalan anggota dewan tak bisa pulang ke rumah andai nanti berniat melayat orangtuanya. Tanpa jalan tak bisa mereka dapatkan suara rakyat. Dan banyak dampak lainnya,” cerita Hasballah pada kawannya setiap kali ia keluar daerah.

Kini  di bawah terik, sebagian penduduk Sangalama sedang menjumpai bupati kabupaten seberang. Hasballah memimpin rombongan. Mereka menyemut di halaman gedung putih. Sebagian mengacungkan spanduk dan sobekan kardus bertuliskan permohonan. “Pak, izinkan kami jadi bagian dari wilayah Bapak,” harap Hasballah pada lelaki yang berdiri di muka gedung. Lelaki itu menyilangkan lengan ke belakang. Dia dikawal beberapa ajudannya. “Ehm,” ia mendehem. “Begini saudara kami. Kalau memang tekad sudah bulat, kami terima. Tapi apakah sudah direstui pemimpin kalian?” Sambil meninju langit, “sudahhhh!” pekik mereka, menggema. “Baiklah kalau begitu. Mulai nanti malam saudara-saudara berkemah dulu di lapangan bola.”

Padahal belum ada restu dari bupati mereka. Tapi mereka tetap bersujud syukur. Menadah tangan berlinang air mata. Dan menang. Euforianya melebihi pasukan marinir yang berhasil merebut pantai. Diucapnya selamat berpisah kepada bupati lama ke sorotan kamera wartawan. “Pak, kita cerai! Kami telah meminang bupati baru, kawan baru, wilayah baru, ladang baru, dan nuansa baru. Kami pun siap mendukungnya jadi gubernur di Pilkada nanti.” Lega. Hore! “Tapi, mungkinkah bupati baru akan menyejahterakan kita? Saya khawatir kita bagai anak tiri kelak,” desis Hasballah di sela-sela hiruk-pikuk penduduk Sangalama menyambut  kemenangan. “Kita akan sejahtera, Lah. Bukankah kabupaten ini maju setelah beliau jadi bupati?” Hasbi meyakini Hasballah. Baik.

Seketika orang-orang besar di kabupaten mereka malu dan marah. Malu sang dewan paling membuncah. Sedang Hasballah dan segenap penduduk Sangalama akan menyongsong hidup baru.

Seminggu berada di kabupaten baru mereka sudah menempati gubuk-gubuk kecil. Disesuaikan dengan anggota keluarga mereka. Tak ada protes. Yang penting cerai dari wilayah lama dan jalan-jalan dengan lubang menganga. Mereka ditempati di lahan baru, diberi nama “Mukim Jamee.” Wah, mereka bangga sekali. Sementara teman lama mereka-penduduk selain mukim Sangalama-menjadi iri.

***

“Pak, kita cerai! Kami mohon pisah dari wilayah ini. Kami tak mau lagi tinggal di Jamee. Kami kira akan bahagia. Nyatanya lebih menderita dari tempat kami dulu. Rupanya, di mana-mana otak pemimpin sama saja,” pekik Hasballah. “Dasar pejabat jahat!” Sempat dilihatnya sang bupati geleng-geleng kepala. Kecewa. “Semoga kalian bahagia di sana,” ujar bupati diiringi senyum simpul.

Setelah setahun di mukim Jamee, mereka kian banyak mengeluh. Kekurangan ladang untuk bertani. Jalan masih melalui rimba. Sekolah masih harus ke mukim tetangga. Tinggal hanya di sebatas gubuk bambu. Seolah dianaktirikan.

Lalu, mereka temui bupati lama esoknya. “Tak ada lagi tempat untuk kalian. Kami bangga dengan keadaan kami. Kami sabar. Kalian bukan orang-orang yang sabar. Tidak kuat hatinya. Jadi. sementara ini kami tak bisa menampung kalian. Maaf.” Hasballah dan orang seperjuangannya terpana. Mengadu pada siapa lagi? Mereka meronta-ronta.

* Penulis anggota FLP Aceh dan alumni MAN 1 Sigli

(Cerpen Serambi Indonesia 03/04/11)

Kunci Jawaban


Fatema berlari ke tepi pelabuhan Ulee Lheu. Perempuan putik itu hendak mengejar seorang perempuan paruh baya yang sedang menaiki tangga dan masuk ke tubuh Pulo Rondo, feri yang akan membawakan penumpang ke Sabang. Jangkar kuku tunggal feri bergerak masuk ke dalam; memisah antara kapal dengan dermaga pelabuhan. Nian lambat, Fatema hanya bisa menatap kuyu tubuh ramping Pulo Rondo yang berlari menyibak riak. Fatema berteriak, menyebut-nyebut nama perempuan paruh baya yang di dalam kapal cepat itu. Lalu Fatema terduduk di bibir dermaga pelabuhan.

***

Perempuan paruh baya berseragam abu-abu memasuki ruangan. Tangan kanannya menghimpitkan map ke dada. Tangan kirinya berayun-ayun ringan seirama dengan seretan kakinya menyapu debu ruangan berlantai semen. Dua puluh pasang mata menatap perempuan paruh baya itu.

“Alah, malas aku kalau Bu Tika yang masuk.” Sengau terdengar suara parau dari yang duduk di pojok.

Perempuan paruh baya itu duduk dengan tangan bersidekap di atas meja bertaplak karton biru dilapisi plastik bening: hasil kreatifitas pelajar katanya. Bu Tika, begitu perempuan paruh baya itu acap disapa. Bu Tika memberi salam memecahkan ketegangan di pagi hendak merambat siang. Bayang-bayang jenuh sepertinya kembali hadir hari ini.

Seperti biasa, usai menerangkan teori segala teori matematika, Bu Tika menyuruh siswanya satu-satu ke depan guna menyelesaikan soal-soal yang diberikan. Pemanasan jelang ujian nasional, kata Bu Tika. Mana ada, Bu Tika itu tak tahu harus mengajarkan apa lagi buat kami, kata sebagian siswanya. Eh, kalian, Bu Tika mau membantu kita supaya lulus semua nantinya, dukung Fatema.

Maka segenap siswa menyembunyikan muka ke laci meja saat mata elang Bu Tika menyorot, siapa yang akan pertama maju.

“Saya, Bu.” Fatema menunjuk loteng yang bolong-bolong, seakan telunjuknya terbang ke awan.

“Jangan kamu selalu. Yang lain siapa berani?” Sahut Bu Tika.

Tak ada satupun yang berani mengacungkan tangan selain Fatema. Maka Bu Tika melangkah ke bangku segala bangku. Ia mengelilingi mereka. Lalu menunjuk seorang siswa untuk maju menyelesaikan soal di papan tulis. Alis tipisnya naik saat siswa itu tak mau bergerak. Tak segan-segan perempuan paruh baya itu menggertak. Tidak lupa pula ia menjewer kuping siswanya yang tak mau maju setelah disuruh beberapa kali.

Usai dipaksa-paksa, baru seorang di antara mereka—selain Fatema—bangkit. Sedikit takut siswa itu berjalan gontai. Rinai-rinai kekhawatiran akan dijitak jika tak bisa menjawab sepertinya melekat dalam pikiran siswa itu. Ah, tujuh menit sudah di depan, remaja ingusan itu belum bisa menyelesaikan soal-soal pemfaktoran yang diberikan Bu Tika. Waktunya sudah habis, kata Bu Tika. Saatnya menyuruh siswa lain, sementara yang tak bisa itu berdiri dengan sebelah kaki di depan.

Alasan Bu Tika mengeksekusi begitu, biar mereka tidak manja dengan bantuan jawaban dari guru mereka di pagi buta sebelum detik-detik ujian akhir dilangsungkan. Pengalaman uan sebelumnya, siswa yang bodoh selama belajar malah lulus, sedang yang aktif dan pintar saat belajar tidak lulus. Bu Tika kecewa. Maka mulai tahun ajaran ini ia membuat kebijakan baru: tak ada istilah manja. Ini bukan jaman manja, katanya.

Bahkan suatu pagi saat dipercayakan untuk memberi pidato pada upacara bendera, Bu Tika mencamkan di hadapan semua peserta dan para staf pengajar juga termasuk kepala sekolah: ini bukan jaman manja, kepala sekolah beserta jajarannya jangan memberikan kunci jawaban saat ujian akhir nasional nanti. Camkan ini. Peserta terhenyak mendengarnya. Apalagi kepala sekolah; ia meninggalkan upacara segera, menuju ruangan kepala sekolah.

Bukan pada kesempatan itu saja. Saat diundang dinas pendidikan untuk membahas ujian akhir nasional beberapa hari sebelumnya, Bu Tika juga melemparkan pernyataan serupa ke muka-muka peserta rapat. “Ini bukan jaman manja. Pengajar jangan memberikan kunci jawaban saat ujian akhir nasional kepada siswa.” Peserta tersentak mendengarnya. Siapa berani membantah? Sergah Bu Tika sebelum coba disanggah. Gagah? Entah.

Perempuan yang mengenakan kacamata dan berkulit hitam manis itu kini melirik ke pojok kanan. Telunjuk kanan mendarat ke wajah siswi yang rautnya sedikit kalem. Bak ada lem di bangku, siswi itu tak mau maju. Jika pun mau, hatinya mengatakan jangan. Maju atau tidak, tetap tak ada bocoran jawaban saat ujian akhir, pikirnya. Kalau sudah berperangai demikian, maka Bu Tika tak segan-segan menyeretnya–setengah memaksa–ke depan.

Bu Tika melototi siswi itu. Lalu melangkah pesat mendekatinya. Tak perlu menunggu lama, siswinya pun bangkit jua. Dua-tiga menit sudah di depan, siswi itu tak jua berani menggoreskan angka-angka atau mencoba menghentak-hentakkan tangan di muka sebaris soal itu. Turunlah keringat dingin dari jidat siswi itu ke pipi, bahkan ke dagu. Gugur pula keberaniannya. Maka ia berdiri lagi dengan sebelah kaki.

Bu Tika hanya geleng-geleng kepala. Apa muridnya tak belajar di rumah. Dua-tiga buah soal selalu ia persembahkan sebagai pekerjaan rumah. Atau ayah-ibu mereka tak peduli. Bisa jadi mereka sendiri mengabaikan kewajibannya, apalagi saat ujian akhir akan ada bocoran kunci jawaban. Heran, negeri ini, pikir Bu Tika.

Niscaya sampai sepuluhan muridnya yang disuruh ke depan tak bisa menjawab. Padahal soalnya hanya sebatas pemfaktoran biasa. Lagi pula sudah dijelaskan berkali-kali. Kecuali saat Fatema yang maju ke depan lalu menjawabnya dengan lincah. Wah, kamu memang hebat Fatema, sanjung kawan-kawannya. Sementara Bu Tika mengangguk-angguk bangga. Ada satu yang manjur, tutur Bu Tika.

Seminggu jelang ujian akhir nasional, seolah terpental ke tanah jantung Bu Tika saat membaca pesan pendek yang masuk ke hapenya. “Masih mau hidup? Kami tidak mau dengar lagi pengaduan anak kami tentang kekerasan yang kamu lakukan saat mengajar.” Berdebar-debar hati Bu Tika. Seketika ia terduduk lemas siang itu di teras rumah. Desah napasnya masih sengal-sengal, lelah setelah mengajar setengah hari penuh.

Malamnya, saat sedang nonton televesi sebentar barengan suaminya, hati Bu Tika kembali ditusuk dengan kata-kata tersusun rapi tapi berfilosofi buruk. “Besok, hari terakhirmu. Jangan lupa salat tahajud ampun dosa malam ini.” Bu Tika hanya bisa mendekap suaminya. Rencana, suaminya melapor polisi, tapi Bu Tika tidak ingin diperbesarkan masalah kecil. Sedetil apa pun ia paham; kian tinggi pohon menjulang, kian kencang angin bertiup. Dan cukup sudah ia mengatakan pada suaminya: berbuat baik itu memang banyak cobaan.

Keesokannya, Bu Tika mengajar seperti biasa, meminta siswanya ke depan untuk menyelesaikan soal-soal yang diberikan. Kemudian menghukumnya berdiri sebelah kaki jika tak bisa dijawab. Pendiriannya tetap: ini bukan jaman manja. Dia pun tak melaporkan pada sesiapa kalau ia mendapat teror, kecuali pada suaminya.

Baru dua jam usai pulang mengajar tiga hari berikutnya, Bu Tika kembali menerima pesan ancaman dengan nomor berbeda dari kemarin. “Kalau masih ingin hidup, berikan kunci jawaban buat murid-muridmu lusa.” Haha, biasa, kata Bu Tika. Ia sudah terbiasa menerima sms ancaman dalam kurun itu. Tak ada lagi rasa kalut di benaknya. Tetap: ini bukan jaman manja.

Maka Bu Tika masih menerapkan pakem mengajar dan mendidiknya seperti semula: ini bukan jaman manja. Sampai ujian akhir dilaksanakan, bahkan mungkin sampai tahun depan. Dan pada hari pengumuman, murid-muridnya tak berani melihat hasil nilai matematika. Bu Tika sendiri seperti tak berani keluar rumah hari itu, entah malu entah terharu, juga takut entah. “Kalaulah anakku tak lulus besok, itu gara-gara kamu. Maka siap-siaplah.” Berbilang jumlah sms bernada serupa ia terima pada malam hari pengumuman.

Sehari kemudian tersiar berita, di surat kabar juga ada, bahwa di sekolah menengah tempat Bu Tika mengajar hanya seorang yang lulus mata pelajaran matematika, yakni Fatema. Lainnya, nihil. Tapi selain pelajaran matematika, semua siswa lulus, kecuali Fatema. Karena sehari sebelum ujian akhir dilangsungkan, Bu Tika bersama kepala sekolah dan staf pengajar lainnya mengadakan rapat rahasia. Bu Tika kalah sama mereka: kepala sekolah dan staf pengajar lainnya. Mereka berkeras akan memberi kunci jawaban untuk pelajaran selain matematika. Bu Tika pun mengalah. Ah, berarti usahaku hanya sampai hari ini saja, batin Bu Tika saat itu. Maka, matematika tanpa diberikan kunci jawaban, lainnya silakan. Dengan demikian, dari ratusan yang mengikuti ujian, hanya Fatema yang mencoba jujur dan patuh pada Bu Tika.

Usai pengumuman, kepala sekolah dan staf pengajar lainnya marah, meski di belakang Bu Tika. Pasalnya, delapan puluh persen tidak lulus, berbanding terbalik dengan target kepala sekolah.

Dan kemarin, Bu Tika didatangi orang-orang, sepertinya wali murid. Tak sedikit dari mereka melempar rumah Bu Tika, di mana saat itu suaminya sedang dinas ke luar daerah. Bu Tika pasrah, hanya bisa meringkuk di kamarnya. Ia terisak meronta-ronta seorang diri, antara hidup dan mati. Jikalaulah mati, sudah saatnya mungkin. Tapi siang kemarin, orang-orang itu tak sampai masuk ke kamarnya. Hanya saja, rumah sewaannya yang terletak di ujung suatu kampung di pinggiran kota Banda Aceh rusak parah.

Tak betah dengan kondisi demikian, Bu Tika mengemaskan pakaian dalam koper. Dan pagi tadi juga ia meninggalkan rumahnya tanpa memberitahukan sesiapa. Sepertinya, hanya Fatema yang tahu sebab ia tinggal sekampung dengan Bu Tika.

***

Fatema masih terduduk di bibir dermaga pelabuhan. Perlahan-lahan kapal Pulo Rondo yang ditumpangi perempuan paruh baya itu menghilang dari pandangan Fatema. Siswi yang amat mencintai Bu Tika itu tak peduli pada angin pagi bertiup kencang. Tadi seorang diri ia pergi ke pelabuhan dengan membawa motor ayahnya yang kebetulan lagi sarapan. Harapannya: bisa melihat dan memeluk Bu Tika yang terakhir kali. Kini matanya menatap lagi ke sejauh matanya memandang. Hanya pulau Sabang yang kelihatan samar di matanya. Angin kian garang bertiup.

“Bhum!”

Kerikil-kerikil kecil berjatuhan ke air hijau yang terombang-ambing. Debu-debu lantai dermaga pelabuhan beterbangan. Cipratan air membekas di bibir dermaga. Sekilas saja tangan perempuan putik itu terlihat mengacung. Gelembung-gelembung bak air mendidih masih bersisa. Beberapa lelaki tanggung berlari ke arah air yang berkecipak itu. Tolong, teriak Fatema.[]

 

Penulis; mahasiswa Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry dan anggota FLP Aceh

 

 

Kunci Jawaban

OLEH

Makmur Dimila

 

Fatema berlari ke tepi pelabuhan Ulee Lheu. Perempuan putik itu hendak mengejar seorang perempuan paruh baya yang sedang menaiki tangga dan masuk ke tubuh Pulo Rondo, feri yang akan membawakan penumpang ke Sabang. Jangkar kuku tunggal feri bergerak masuk ke dalam; memisah antara kapal dengan dermaga pelabuhan. Nian lambat, Fatema hanya bisa menatap kuyu tubuh ramping Pulo Rondo yang berlari menyibak riak. Fatema berteriak, menyebut-nyebut nama perempuan paruh baya yang di dalam kapal cepat itu. Lalu Fatema terduduk di bibir dermaga pelabuhan.

***

Perempuan paruh baya berseragam abu-abu memasuki ruangan. Tangan kanannya menghimpitkan map ke dada. Tangan kirinya berayun-ayun ringan seirama dengan seretan kakinya menyapu debu ruangan berlantai semen. Dua puluh pasang mata menatap perempuan paruh baya itu.

“Alah, malas aku kalau Bu Tika yang masuk.” Sengau terdengar suara parau dari yang duduk di pojok.

Perempuan paruh baya itu duduk dengan tangan bersidekap di atas meja bertaplak karton biru dilapisi plastik bening: hasil kreatifitas pelajar katanya. Bu Tika, begitu perempuan paruh baya itu acap disapa. Bu Tika memberi salam memecahkan ketegangan di pagi hendak merambat siang. Bayang-bayang jenuh sepertinya kembali hadir hari ini.

Seperti biasa, usai menerangkan teori segala teori matematika, Bu Tika menyuruh siswanya satu-satu ke depan guna menyelesaikan soal-soal yang diberikan. Pemanasan jelang ujian nasional, kata Bu Tika. Mana ada, Bu Tika itu tak tahu harus mengajarkan apa lagi buat kami, kata sebagian siswanya. Eh, kalian, Bu Tika mau membantu kita supaya lulus semua nantinya, dukung Fatema.

Maka segenap siswa menyembunyikan muka ke laci meja saat mata elang Bu Tika menyorot, siapa yang akan pertama maju.

“Saya, Bu.” Fatema menunjuk loteng yang bolong-bolong, seakan telunjuknya terbang ke awan.

“Jangan kamu selalu. Yang lain siapa berani?” Sahut Bu Tika.

Tak ada satupun yang berani mengacungkan tangan selain Fatema. Maka Bu Tika melangkah ke bangku segala bangku. Ia mengelilingi mereka. Lalu menunjuk seorang siswa untuk maju menyelesaikan soal di papan tulis. Alis tipisnya naik saat siswa itu tak mau bergerak. Tak segan-segan perempuan paruh baya itu menggertak. Tidak lupa pula ia menjewer kuping siswanya yang tak mau maju setelah disuruh beberapa kali.

Usai dipaksa-paksa, baru seorang di antara mereka—selain Fatema—bangkit. Sedikit takut siswa itu berjalan gontai. Rinai-rinai kekhawatiran akan dijitak jika tak bisa menjawab sepertinya melekat dalam pikiran siswa itu. Ah, tujuh menit sudah di depan, remaja ingusan itu belum bisa menyelesaikan soal-soal pemfaktoran yang diberikan Bu Tika. Waktunya sudah habis, kata Bu Tika. Saatnya menyuruh siswa lain, sementara yang tak bisa itu berdiri dengan sebelah kaki di depan.

Alasan Bu Tika mengeksekusi begitu, biar mereka tidak manja dengan bantuan jawaban dari guru mereka di pagi buta sebelum detik-detik ujian akhir dilangsungkan. Pengalaman uan sebelumnya, siswa yang bodoh selama belajar malah lulus, sedang yang aktif dan pintar saat belajar tidak lulus. Bu Tika kecewa. Maka mulai tahun ajaran ini ia membuat kebijakan baru: tak ada istilah manja. Ini bukan jaman manja, katanya.

Bahkan suatu pagi saat dipercayakan untuk memberi pidato pada upacara bendera, Bu Tika mencamkan di hadapan semua peserta dan para staf pengajar juga termasuk kepala sekolah: ini bukan jaman manja, kepala sekolah beserta jajarannya jangan memberikan kunci jawaban saat ujian akhir nasional nanti. Camkan ini. Peserta terhenyak mendengarnya. Apalagi kepala sekolah; ia meninggalkan upacara segera, menuju ruangan kepala sekolah.

Bukan pada kesempatan itu saja. Saat diundang dinas pendidikan untuk membahas ujian akhir nasional beberapa hari sebelumnya, Bu Tika juga melemparkan pernyataan serupa ke muka-muka peserta rapat. “Ini bukan jaman manja. Pengajar jangan memberikan kunci jawaban saat ujian akhir nasional kepada siswa.” Peserta tersentak mendengarnya. Siapa berani membantah? Sergah Bu Tika sebelum coba disanggah. Gagah? Entah.

Perempuan yang mengenakan kacamata dan berkulit hitam manis itu kini melirik ke pojok kanan. Telunjuk kanan mendarat ke wajah siswi yang rautnya sedikit kalem. Bak ada lem di bangku, siswi itu tak mau maju. Jika pun mau, hatinya mengatakan jangan. Maju atau tidak, tetap tak ada bocoran jawaban saat ujian akhir, pikirnya. Kalau sudah berperangai demikian, maka Bu Tika tak segan-segan menyeretnya–setengah memaksa–ke depan.

Bu Tika melototi siswi itu. Lalu melangkah pesat mendekatinya. Tak perlu menunggu lama, siswinya pun bangkit jua. Dua-tiga menit sudah di depan, siswi itu tak jua berani menggoreskan angka-angka atau mencoba menghentak-hentakkan tangan di muka sebaris soal itu. Turunlah keringat dingin dari jidat siswi itu ke pipi, bahkan ke dagu. Gugur pula keberaniannya. Maka ia berdiri lagi dengan sebelah kaki.

Bu Tika hanya geleng-geleng kepala. Apa muridnya tak belajar di rumah. Dua-tiga buah soal selalu ia persembahkan sebagai pekerjaan rumah. Atau ayah-ibu mereka tak peduli. Bisa jadi mereka sendiri mengabaikan kewajibannya, apalagi saat ujian akhir akan ada bocoran kunci jawaban. Heran, negeri ini, pikir Bu Tika.

Niscaya sampai sepuluhan muridnya yang disuruh ke depan tak bisa menjawab. Padahal soalnya hanya sebatas pemfaktoran biasa. Lagi pula sudah dijelaskan berkali-kali. Kecuali saat Fatema yang maju ke depan lalu menjawabnya dengan lincah. Wah, kamu memang hebat Fatema, sanjung kawan-kawannya. Sementara Bu Tika mengangguk-angguk bangga. Ada satu yang manjur, tutur Bu Tika.

Seminggu jelang ujian akhir nasional, seolah terpental ke tanah jantung Bu Tika saat membaca pesan pendek yang masuk ke hapenya. “Masih mau hidup? Kami tidak mau dengar lagi pengaduan anak kami tentang kekerasan yang kamu lakukan saat mengajar.” Berdebar-debar hati Bu Tika. Seketika ia terduduk lemas siang itu di teras rumah. Desah napasnya masih sengal-sengal, lelah setelah mengajar setengah hari penuh.

Malamnya, saat sedang nonton televesi sebentar barengan suaminya, hati Bu Tika kembali ditusuk dengan kata-kata tersusun rapi tapi berfilosofi buruk. “Besok, hari terakhirmu. Jangan lupa salat tahajud ampun dosa malam ini.” Bu Tika hanya bisa mendekap suaminya. Rencana, suaminya melapor polisi, tapi Bu Tika tidak ingin diperbesarkan masalah kecil. Sedetil apa pun ia paham; kian tinggi pohon menjulang, kian kencang angin bertiup. Dan cukup sudah ia mengatakan pada suaminya: berbuat baik itu memang banyak cobaan.

Keesokannya, Bu Tika mengajar seperti biasa, meminta siswanya ke depan untuk menyelesaikan soal-soal yang diberikan. Kemudian menghukumnya berdiri sebelah kaki jika tak bisa dijawab. Pendiriannya tetap: ini bukan jaman manja. Dia pun tak melaporkan pada sesiapa kalau ia mendapat teror, kecuali pada suaminya.

Baru dua jam usai pulang mengajar tiga hari berikutnya, Bu Tika kembali menerima pesan ancaman dengan nomor berbeda dari kemarin. “Kalau masih ingin hidup, berikan kunci jawaban buat murid-muridmu lusa.” Haha, biasa, kata Bu Tika. Ia sudah terbiasa menerima sms ancaman dalam kurun itu. Tak ada lagi rasa kalut di benaknya. Tetap: ini bukan jaman manja.

Maka Bu Tika masih menerapkan pakem mengajar dan mendidiknya seperti semula: ini bukan jaman manja. Sampai ujian akhir dilaksanakan, bahkan mungkin sampai tahun depan. Dan pada hari pengumuman, murid-muridnya tak berani melihat hasil nilai matematika. Bu Tika sendiri seperti tak berani keluar rumah hari itu, entah malu entah terharu, juga takut entah. “Kalaulah anakku tak lulus besok, itu gara-gara kamu. Maka siap-siaplah.” Berbilang jumlah sms bernada serupa ia terima pada malam hari pengumuman.

Sehari kemudian tersiar berita, di surat kabar juga ada, bahwa di sekolah menengah tempat Bu Tika mengajar hanya seorang yang lulus mata pelajaran matematika, yakni Fatema. Lainnya, nihil. Tapi selain pelajaran matematika, semua siswa lulus, kecuali Fatema. Karena sehari sebelum ujian akhir dilangsungkan, Bu Tika bersama kepala sekolah dan staf pengajar lainnya mengadakan rapat rahasia. Bu Tika kalah sama mereka: kepala sekolah dan staf pengajar lainnya. Mereka berkeras akan memberi kunci jawaban untuk pelajaran selain matematika. Bu Tika pun mengalah. Ah, berarti usahaku hanya sampai hari ini saja, batin Bu Tika saat itu. Maka, matematika tanpa diberikan kunci jawaban, lainnya silakan. Dengan demikian, dari ratusan yang mengikuti ujian, hanya Fatema yang mencoba jujur dan patuh pada Bu Tika.

Usai pengumuman, kepala sekolah dan staf pengajar lainnya marah, meski di belakang Bu Tika. Pasalnya, delapan puluh persen tidak lulus, berbanding terbalik dengan target kepala sekolah.

Dan kemarin, Bu Tika didatangi orang-orang, sepertinya wali murid. Tak sedikit dari mereka melempar rumah Bu Tika, di mana saat itu suaminya sedang dinas ke luar daerah. Bu Tika pasrah, hanya bisa meringkuk di kamarnya. Ia terisak meronta-ronta seorang diri, antara hidup dan mati. Jikalaulah mati, sudah saatnya mungkin. Tapi siang kemarin, orang-orang itu tak sampai masuk ke kamarnya. Hanya saja, rumah sewaannya yang terletak di ujung suatu kampung di pinggiran kota Banda Aceh rusak parah.

Tak betah dengan kondisi demikian, Bu Tika mengemaskan pakaian dalam koper. Dan pagi tadi juga ia meninggalkan rumahnya tanpa memberitahukan sesiapa. Sepertinya, hanya Fatema yang tahu sebab ia tinggal sekampung dengan Bu Tika.

***

Fatema masih terduduk di bibir dermaga pelabuhan. Perlahan-lahan kapal Pulo Rondo yang ditumpangi perempuan paruh baya itu menghilang dari pandangan Fatema. Siswi yang amat mencintai Bu Tika itu tak peduli pada angin pagi bertiup kencang. Tadi seorang diri ia pergi ke pelabuhan dengan membawa motor ayahnya yang kebetulan lagi sarapan. Harapannya: bisa melihat dan memeluk Bu Tika yang terakhir kali. Kini matanya menatap lagi ke sejauh matanya memandang. Hanya pulau Sabang yang kelihatan samar di matanya. Angin kian garang bertiup.

“Bhum!”

Kerikil-kerikil kecil berjatuhan ke air hijau yang terombang-ambing. Debu-debu lantai dermaga pelabuhan beterbangan. Cipratan air membekas di bibir dermaga. Sekilas saja tangan perempuan putik itu terlihat mengacung. Gelembung-gelembung bak air mendidih masih bersisa. Beberapa lelaki tanggung berlari ke arah air yang berkecipak itu. Tolong, teriak Fatema.[]

Penulis; mahasiswa Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry dan anggota FLP Aceh

(Cerpen HA 060311)