Gampong Bersyariat, Alah Bisa Karena Dipaksa


Gampong merupakan satu di antara berbagai sarana untuk menumbuhkan sesuatu. Lalu mengembangkannya. Gampong juga bagian dari pemerintahan. Lantas bagaimana jika gampong-gampong di Aceh dijadikan pusat penegakan syariat islam? Apa yang harus dilakukan. Dan bagaimana agar masayarakat dapat menerima dan melaksanakan penerapan syariat itu dengan baik? Hal-hal konkret apa yang harus dilakukan?

Menurut hemat saya, ada beberapa cara yang harus ditempuh. Pertama sekali, pemerintah baik dari provinsi hingga ke geuchik harus bekerjasama. Harus saling berkomunikasi dengan baik. Harus seiya sekata. Kemudian ke semua jenjang pemerintahan itu harus berkomunikasi lagi dengan alim ulama atau cerdik pandai, dan dengan orang-orang dayah di Aceh. Orang pemerintahan harus duduk semeja dengan orang dayah demi mencari solusi dalam penegakan syariat islam di tingkat gampong. Kedua lini ini harus berkolaborasi sehingga menghasilkan sebuah cara konkret untuk menerapkan syariat islam. Hasil pertemuan itu bisa dengan membentuk sebuah tim khusus pemantau penegakan syariat islam. Nantinya tim tersebut akan bertugas sebagai tempat pengaduan masyarakat (mediator) dan turun langsung ke gampong-gampong.

Kedua, saluh satu tawaran saya, yakni setiap gampong harus diperbaharui tradisi lama. Di antaranya, setiap malam atau hari, kalau keberatan, minimal seminggu sekali setiap gampong yang tersebar di tanah Aceh harus diadakan kajian agama. Memang beberapa gampong di pelosok sudah mencobanya. Namun lambat laun yang hadir ke kajian itu memudar oleh kesibukan masing-masing. Yang perlu dilakukan sekarang, pemerintah melalui pihak camat atau kabupatan turun langsung untuk mengawasinya. Karena untuk jaman sekarang mesti berlaku pepatah (pelesetan) ini, seperti kata kawan kami dari FLP Aceh, “Alah bisa karena dipaksa”. Kesadaran diri tak ada lagi sekarang. Niscaya perlu dipaksa untuk menerapkan syariat islam, tapi tidak dengan kekerasan. Salah satu paksaan itu bisa dengan menetapkan aturan: setiap warung atau sejenisnya dan tempat keramaian harus ditutup sebelum magrib sampai setelah isya. Jeda segitu tak lama rasanya.

Ketiga, antara gampong yang satu dengan lainnya harus saling berkomunikasi juga. Misalnya, setiap seminggu atau sebulan sekali, antar mukim atau pun antar camat mengadakan pertemuan untuk membahas sejauh mana syariat islam sudah dijalankan di masing-masing gampong. Pertemuan ini bisa dihadiri oleh masing-masing geuchik atau lurah atau wakilah. Kemudian hasil pertemuan ini dilaporkan ke pihak yang lebih tinggi, ialah ke tim khusus pemantau penegakan syariat islam yang dibentuk pemerintah tadi. Kalau perlu tim khusus itu digaji pemerintah agar lebih gigih dan sungguh-sungguh.

Toh, saya rasa dengan cara-cara tadi syariat islam akan tegak di gampong-gampong di seluruh Aceh. Kita berharap, jangan sampai negeri ini seperti kata Nyak Kaoy, na geuchik lagee boh pik hana sagoe, na waki lagee keubiri gatai asoe, na rakyat hudah huduh lale keudroe. Mandum lale bak let peukateun donya, hana soe le yang pike keu uroe dudoe. Maksudnya, baik pemimpin dari tingkat desa hingga pemerintahan tertinggi, juga rakyat, masing-masing sibuk sendiri. Semuanya kejar kesenangan dunia, tidak ada lagi yang pedulikan agama.

Penulis; mahasiswa KPI-Jurnalistik Fak. Dakwah IAIN Ar-Raniry

**Opini singkatku ini dimuat di tabloid Gema Baiturrahman, bisa juga diakses di http://www.gemabaiturrahmanonline.com

Terlalu Dini Bermimpi Membangun Tol


Aceh masih dalam tahap pembangunan. Pemerintah Aceh punya beberapa rencana untuk pembangunan, salah satunya membangun jalan tol (high way) yang bekerjasama dengan Korea Selatan. Rencananya jalan bebas macet ini akan dibangun dari Banda Aceh tembus ke Medan melalui jalur bumi Tanah Rencong bagian Timur.

Maaf, ini terlalu dini untuk dicanangkan. Alangkah baiknya sebelum membangun jalan tol, lebih dulu pemerintah Aceh membangun jalan-jalan di pedesaan di seluruh Aceh yang hari ini sangat memprihatinkan. Rusak parah. Lobang menganga di mana-mana, bahkan bisa menyebabkan kecelakaan kerena lobang di jalan.

Sementara bila melihat jalan raya Banda Aceh-Medan, sungguh mulus tanpa “luka”. Jika pun “luka atau berjerawat” ia “dioperasi palstik”. Hampir setiap hari diperlebar dan diperbaiki. Sehingga ketika orang luar datang ke Aceh, mereka akan mengatakan, “Sangat bagus perhatian pemerintah Aceh terhadap pembangunan jalan,” ini seolah-olah pemerintah berhasil dalam mensejahterakan jalur transportasi rakyat Aceh.

Lalu, apakah pemerintah tidak mau memperhatikan lagi jalan desa? Atau tidak ada anggaran kalau untuk memperbaiki jalan pedesaan? Atau pemerintah betah duduk bergoyang-goyang dalam mobil plat merah ketika sesekali memasuki jalan desa? Homlah!

**Ini surat pembaca untuk tabloid Tabangun Aceh

Gle Gapui di Mata Langit


Oleh Makmur Dimila

Kotak-kotak cahaya lampu berjejeran di utara, selatan, barat, dan timur perkampungan sewaktu aku berdiri di bukit ini, memandang ke bawah. Kerlap-kerlip bintang menggelayut di langit segala lapisan langit. Sesekali gemuruh angin malam menampar wajahku sampai-sampai sejumput rambut panjang menutupi mata kananku.

Ini malam Jumat. Malamnya orang-orang kampung di kaki bukit, pula di sekeliling bukit ini. Sebentar lagi orang-orang itu akan hadir kemari. Untuk apa? Tunggu sebentar. Aku memutar badan dulu. Aku melangkah dulu ke dekat panggung itu. Panggung apa? Tunggu sebentar. Aku mengatur nafas dulu.

Rupa-rupanya beberapa lelaki muda tengah mempersiapkan pencahayaan di sekitar panggung. Sebagian membaluti dinding panggung dengan kain warna bergaris merah, kuning, hijau, dan hitam. Hanya satu dinding, di bagian timur panggung. Alasnya hitam. Atapnya berwarna merah. Panggung itu berukuran tak lebih dari tujuh kali lima meter.

“Selamat datang di malam pertunjukan budaya Aceh”. Rangkaian kata-kata itu menempel pada sehelai kain yang digantung di ujung atap panggung bagian depan.

Rupa-rupanya aku tengah berada di Gle Gapui, begitu mereka menyebut bukit ini. Kata mereka lho, setiap malam Jumat di Gle Gapui digelar pertunjukan bernuansa budaya Aceh. Yang mengisi panggung bukanlah seniman atau masyarakat dari luar Gle Gapui apalagi dari luar Aceh, tapi orang-orang yang sebentar lagi akan datang kemari.

Sungguh kumohon, semoga ini malam hujan tidak kena tugas membasahi tanah Gle Gapui dan sekitarnya.  Biarkan bulan dan bintang ikut menonton pertunjukan ini. Jam yang terlilit di tangan kiriku menunjuki angka 8. “Tes, tiga, dua, satu, suaraku mencoba,” sepotong suara keluar dari mulut seorang operator melalui toa. Diulangnya dua kali lagi. “Ka bereh nyoe (Ini sudah siap),” ujar pria berpeci hitam di utara panggung.

Sejenak hening. Hanya kicauan burung rimba dan nyanyian jangkrik yang terdengar. Tak berapa lama, kepala-kepala manusia bergerak-gerak hingga terlihat tubuh mereka sampai ke ujung sandal jepit. Tetua maupun pemuda dari berbagai desa hadir. Ibu-ibu menggendong anaknya. Remaja putra dan putri bercengkrama sambil berjalan kemari. Anak-anak berloncat-loncat sambil memandang bintang berekor jatuh”.

Sekemampuanku menaksir-naksir, jumlah orang dari kampung segala kampung itu sekitar tiga ratusan. Bagiku ini lumayan banyak, tapi entah berapa menurut bulan dan bintang, pula menurut taksiran jangkrik.

Mereka memadati tanah Gle Gapui. Rata-rata duduk bersila di rerumputan yang hijau lebat.  Mereka mengelilingi panggung kecuali di sisi timur. Tak bisa kulihat wajah mereka yang berdiri seperti kedinginan di saf paling belakang.

“Selamat malam semuanya… Mari kita saksikan dan ambilkan hikmahnya dari pertunjukan malam ini,” suara merdu perempuan protokol menyapa kami. Belum apa-apa hadirin sudah bertepuk tangan, tak sabar menyaksikan.

Tarian ranup lampuan dari desa di kaki bukit mengawali acara. Musik-musik yang ditabuh pria di tepi panggung sungguh membuat hadirin tidak ribut, mereka terdiam dan ada yang goyang-goyang kepala, tapi bukan goyang kepala goyang badan mendengar lagu dangdut. Hadirin menghayati syair-syair yang dialirkan dalam tarian penyambut tamu itu. Sesekali sorak penonton menggema, mengusir bangau yang sedang tidur di pucuk pepohonan jati.

Entah kenapa, Gle Gapui tiba-tiba ikut bergoyang, dan bergetar. Penonton pada panik dan berdiri semua. Aku mencoba tidak panik, aman-aman saja. Sementara yang manggung ikut turun hendak berlari, begitu juga hadirin hendak berlari. Mulut mereka mengeluarkan kaliamat-kalimat suci.

“Mohon jangan pulang dulu, ini teguran bagi kita. Mungkin ada di antara kita yang sering meninggalkan salat. Segeralah insaf. Insaf neuk, cupo, mawa, abu, adoe, dan aduen (nak, kakak, nenek, kakek, adik, dan abang),” saran lelaki berpeci hitam. Kata-katanya membuat orang kembali memutar badan dan duduk diam meski was-was.

Dilanjutkan beberapa tarian, seperti seudati, likok pulo, dan tarek pukat. Setelah itu giliran penyair dari desa timur bukit. Empat pria naik ke panggung. Aku yang tadi duduk di saf terdepan diajak mereka manggung, ditawar berbalas pantun. Aku pun rela, aku rela bila naik pentas apalagi ada bunga-bunga desa yang menonton. Sungguh aku ingin menunjukkan kebolehanku, memantik hati mereka. Mulailah kami. Kerap kali penonton terbahak-bahak mendengar celoteh kami.

Entah kenapa, tiba-tiba lampu tidak menyala. Teguran untuk siapa lagi ini. Gulitalah tempat ini, di sekeliling Gle Gapui juga demikian. “Soe na me panyot atau sente (Siapa ada bawa lentera atau senter)?” Seorang penyair menanyakan hadirin dari atas panggung. “Panyot hana (tidak ada) tapi sente na, cuman kabeh batre (cuma sudah habis baterai),” jawab beberapa lidah hadirin.

Kami jadi gaduh. Anak-anak menangis. Bulan dan bintang pun meredup ketika kami butuh cahaya mereka.

Hore, hore.. Lampu ka hu lom (menyala kembali)…” Anak bersorak ria. Sekarang lampu sudah hidup kembali. Kami mengatur saf kembali, melanjutkan beberapa hikayat lagi.

Angin malam semakin mencucuk tulang. Merinding. Kami turun. Tepuk tangan penonton memecah keheningan malam. Kini giliran para pesandiwara. Semacam seni udara (teater) akan dipertunjukkan. Naiklah beberapa orang dari desa sagi utara dan selatan Gle Gapui.

Mereka mulai bersandiwara. Sebelumnya mereka mengajakku ikut bersandiwara juga, tapi kutolak, suaraku sudah parau. Biarkan orang lain menginjak-nginjak lantai panggung. Berbilang menit penonton tertawa menyaksikan mereka.

Tapi entah kenapa mereka mempertanyakan langit, “pakon na geulanteu teungoh tanonton nyoe, rudok nyan lom (kenapa ada petir tengah nonton ini, mendung itu lagi..,” ucap beberapa penonton. Rintik hujan menyentil-nyentil tanganku. Rintikan hujan kian keras dan besar. Suara kambing menolak hujan di mana-mana, dan suara katak memohon hujan juga di mana-mana. Aku tak bersuara tentang hujan. Aku biarkan kemudian suara kilat mencambuk tanah Gle Gapui dan sekitarnya.

Sementara orang-orang berlari tak menentu arah. Seketika panggung kecil ini disesaki penonton. Tak ada tempat berteduh lain. Namun sebagian penonton berteduh diri di bawah pohon-pohon waru dan beringin yang memaku tanah bukit ini. Ada beberapa anak bersikeras bermain hujan, membangkang apa kata orang tua. Aku tak mau menegur mereka, biarkan halilintar menegurnya.

Di tengah-tengah hujan ini, bulu di seluruh anggota tubuh kami berdiri. Lalu samar terdengar suara aneh. Seperti bunyi ringkikan kuda. Dari bawah bukit anjing menyalak. “Bek rioh bek yo, kameu ratep (Jangan riuh jangan takut, tolong berzikir),” anjur pria berpeci hitam tadi pada kami. Anak-anak itu pun berlari pontang-panting. Mereka ketakutan dan mencari orang tuanya.

Dalam berlari-lari itu, empat orang anak tersambar petir. Mereka terpelanting ke hadapan kami. Apa hendak kami katakan. Kami diam tanpa kata. Tak peduli hujan, tak peduli setan, semesta hadirin yang sudah terpisah-pisah berlari kemari. Mengerubuni jasad anak-anak itu. Terdengar berbagai ungkapan dari mereka. Ada penyesalan, ratapan, makian, teguran, anjuran, simpati, kecewa, dan sebagainya. Tapi lidahkau tidak ingin bersilat.

Setelah puas meledak-ledak, kini letupan guntur dan petir berlari jauh ke sana. Semakin kecil terdengar, tapi gaduh dan gundah hadirin semakin besar terdengar. Hujan sedikit reda. Gerimis hujan membersihkan darah dari tubuh anak-anak yang sudah gosong itu. Tak tahan isak tangis orang tua.

Selepas kejadian malam itu, Jumat malam di Gle Gapui sepi. Mereka tidak lagi mengadakan pertunjukan. Sempat kusarankan menggelarnya di selain malam Jumat, tapi mereka menolak. Tak ingin lagi terjadi seperti itu. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, hingga tahun berganti tahun, cahaya Jumat malam Gle Gapui padam.

Akan tetapi, sejak 10 tahun setelah kejadian itu, malam segala malam di Gle Gapui kembali bercahaya. Tidak hanya Jumat malam, tapi semua malam apalagi malam Minggu. Namun aku sangat heran. Tak bisa kupendam rasa heran dan benciku. Risih sekali. Rupa-rupanya generasi penduduk di kaki bukit Gle Gapui dan sekitarnya setelah tragedi Jumat malam itu berubah drastis. Mereka menghiasi malam Gle Gapui bukan dengan suatu pertunjukan budaya atau apa, tapi dengan hiasan yang tak bisa kuberi nama. Pernah kedapatan beberapa kali adegan mesum di sana oleh anggota WH, polisi syariat islam.

Kalau siang hari, Gle Gapui yang kini dipenuhi kios-kios dan warung-warung, pula ada kampus di bukit itu, dipenuhi pemuda-pemudi. Mereka bersandiwara dengan alur berbeda di sana. Ada kebut-kebutan, juga menjadi tempat pertemuan manusia berpasang-pasangan.  Entahlah. Biarkan sekali lagi, guntur dan kilat menegur mereka. Biarkan mata langit mempelototi Gle Gapui beserta isinya.[]

Dimuat di Harian Aceh, bisa juga diakses di http://www.harian-aceh.com

Binti, juga Banta


AWAN hitam berarak di langit diingin katak. Ini memang lagi musim hujan. Binti berlari dari rumah panggungnya  meraih pakaian di jemuran. Ia terengah-engah seperti penyuh menyeret kaki kanannya yang sejak dua tahun lalu lumpuh.

Setelah merapikan pakaian di ruangan tamu, Binti kembali ke rangkang bambu, duduk berselonjor. Percikan-percikan putih halus menoreh rambut yang tergerai panjang. Hitam lebat. Genangan air hujan mulai merayap ke sela-sela gundukan tanah lantai rumah. Perempuan berbibir sumbing itu tak bergeming. Ia terus merajut benang demi benang. Menyulam kopiah meukutop. Nampak beberapa utas benang merah, kuning, hitam, dan hijau tergeletak di alas rangkang. Juga beberapa potongan kain tetron, pula seutas benang sumbu.

Menjahit kopiah meukutop sejak tamat SD itu diajari Maknya. Dua tahun kemudian perempuan agung itu harus istirahat panjang menyusul sang Ayah. Sementara Buntu, abangnya, hilang tanpa jejak ketika konflik bersenjata Aceh. Kini, ia hidup bersama Banta, adiknya. Ia  menyulam kopiah meukutop saban hari untuk menyambung hidup. Sebulan Binti hanya bisa menyudahi satu kopiah meukutop. Hasil jahitannya itu ia jual ke toko souvenir Aceh, terkadang ada juga dipesan khusus. Satu kopiah dihargai paling mahal 100 ribu. Sungguh tak sebanding dengan iuran bulanan adiknya dan modal pembuatan kopiah. Tak jarang ia menjual ternakan untuk membeli bahan. Belum lagi untuk makan. Sering sekali dia mengosongkan  perut. Dibiarkan 24 jam cacing berkeroncong di lambungnya.

Angin kencang menyapu bercak-bercak ketombe di bahu Binti. Sejuta asa terlihat di bulat matanya, dan berkaca-kaca. Ia menerawang di hujan rintik-rintik hingga terbayang senyum kedua orangtuanya. Seketika kedua tangannya ingin memeluk mereka, tapi ia sadar hingga kedua tangannya kembali menusuk kain dengan jarum.

Dalam guyur rintik hujan, terlihat Banta berlari, masuk pekarangan rumah. Baju putih dan celana merahnya kering sebagian. Bulir-bulir bening menempel di wajah. Ia tetap ceria. Sampai-sampai terlihat gigi menguning tebal ketika tersenyum lebar. Tangan kanan menjinjing kresek hitam. “Ini ikan gabus kak, tadi dikasih bang Man.” Binti agak sangsi. Dia menegur Banta berkali-kali. “Lebih baik kita mati kelaparan daripada makan ikan hasil curian ini, dik!” hardik Binti namun suara itu tersekak di rongga hidungnya yang mancung.

Banta dengan langkah pelan masuk ke rumah. Guntur meletup di langit segala lapisan langit diiringi kilatan merah yang menjalar ke  dinding rumah mereka.  Dua ekor itik dan tiga ekor ayam milik Binti, sisa dari mangsaan biawak saban malam, berceloteh dalam kandang. Gemuruh riak di kali tepi rumahnya kian besar. Air mulai kuning kecoklatan, menghanyutkan kayu-kayu besar hasil tebangan liar dari rimba Tangse.

Dalam riak kegalauan Binti dan Banta, datang seorang lelaki pemesan kopiah. Lelaki itu menggenggam gagang payung berparasut kuning. Dia seperti baru pangkas rambut, potongan-potongan rambut hitam kecil berserakan di leher dan baju putihnya. Segera dia membentak. “Aku mau kawin lusa. Kok belum siap kopiahnya? Alahai nong!” Belum sempat lidah Binti bersilat, lelaki itu lekas pergi. Padahal pesanan lelaki itu sudah kelar. Tapi apa hendak dikata. Mendung di wajah Binti tiba. Setetes air mata berlari melalui lekukan hidung. Sungguh ia menghiba ibunda hadir ketika ia menangis, menyeka air mata lalu menghiburnya. Sementara Banta sedang apa entah, kayaknya ia tertidur pulas.

* Pengarang adalah mahasiswa KPI-Jurnalistik Fak. Dakwah IAIN Ar-raniry.

cerpen ini telah dimuat di harian Serambi Indonesia

Tidak Mahal Engkau Bungsu


BUNGSU duduk bersama perempuan-perepuan putik lainnya. Berjejer di panggung desa beralaskan papan jati dan beratapkan daun nyiur muda. Bungsu baru saja dibalut kain beludru yang bertaburkan manik-manik manis, begitu pula teman manggungnya. Tampak paras mereka putih kontras warna jemari mereka yang hitam. Tapi tak peduli, ketika seeorang lelaki muda bersila di hadapan yang kedua lengannya memeluk Rapai dengankain hitam-kuning yang melilit jidatnya. 

Orang-orang pada berkemas-kemas menunggu tubuh perempuan-perempuan berparas permai itu meliuk-liuk, termasuk Bungsu yang menjadi sajian hangat bak kenduri raya bagi pemuda desa. Sedang para bocah berlarian di hadapan panggung.

Angin senja bergemuruh bertingkah gemulai para perempuan di atas panggung yang mnghayunkan ke kanan dan ke kiri. Kepala mereka mengangguk-angguk, menggeleng-geleng, mengikuti lantunan syair yang dibacakan Syeh, lelaki muda penabuh Rapai.

Gerakan perempuan bak menabur benih padi dengan lengan yang dikepak sambil bernyanyi,:

//Bukon le sayang takalon bueh/ kaputeh-puteh lam laot raya/ Bukon le sayang takalon wareh/ jenggot kaputeh seumbahyang hana// (Sungguh sayang kita lihat buih/ putih-putih sudah dalam samudra/ Sungguh sayang kita lihat kaum/ jenggot sudah putih salat tiada//).

Sair-sair itu telah membuat para lelaki yang sebelumnya hanyut dalam terpaan gelombang perempuan-perempuan itu, mulai membisu sambil meraba-raba dagu. Para lelaki tertua diam merunduk. Karamlah nafsu pria-pria itu ketika Bungsu dan kawan-kawannya kembali berlekuk bak gelombang yang menyapu buih-buih ke bibir pantai keheningan, hadirin pun larut akan pertunjukan itu hingga tengah malam. Suatu malam yang mengisyaratkan esok hari mulai panen padi.

Usai sudah panen padi. Bungsu duduk di atas kursi rotan sambil menggoyang-goyangkan tumit kakinya yang pecah-pecah, namun kukunya mengkilap dan bulat-bulat. 

Duapuluh tahun berlalu, Bungsu sudah dime tanda (dipinang) berkali-kali oleh satu setengah lusin lelaki bujangan maupun duda-duda buangan. Heran, Bungsu tak menerima satu pun jeulamee  yang ditawarkan sejumlah lelaki itu. Kini, usianya menginjak angka empat puluhan. Dia hanya bisa duduk termenung di atas kursi roda di teras rumah kayu milik emaknya. Merenungkan masa-masa dia menari di atas panggung desa. Tapi kini ia harus menggantungkan kedua kakinya setelah Odong-odong menggilasnya kemarin sore hari. Matanya berkaca-kaca seperti meratapi keegoisannya

* Makmur; adalah mahasiswa tinggal di Jalan Bahtera, Lorong  Intan Kampung Mulia, Banda Aceh.

Telah dimuat Serambi Indonesia

Piramida Peuneuphon

Cerpen ini telah dimuat di harian Serambi Indonesia




AKU mengintip dari  balik orang-orangan berbaju putih sobek-robek,  berkepala kelapa yang dibolongi tupai, Yah Andah. Selusin langkah selisih jarak kami. Lelaki tua itu mengenakan peci hitam, baju olahraga sekolah milik putra dia kayaknya, dan sarung selutut. Ia berjongkok di pojok pematang sepetak sawah. Tangan kanan meraba  ketika pertama ditanam padi berusia muda-mudi. Sepertinya ia memeriksa keutuhan isinya. Mulut lelaki tua itu komat-kamit. 

Di bungkusan itu terlihat buliran padi hijau pekat telah dihunjam-hunjamkan di sawah berair coklat kekuningan, seperti pasukan berpakaian coklat kekuningan baris-berbaris di lapangan hijau pekat. Pula terpandang, sawah di kampung kami bertingkat-tingkat seperti tangga panjang. Hijau menebar harmoni pagi. Sejumput-jumput buliran padi putik memaku-maku sawah dari pematang tempatku berdiri sampai sejauh mata menerawang. Bau tanah tak bisa diriku bendungi terkadang.

Kicauan bangau putih jenis belekok dan pipit mempertunjukan musik bagi petani. Ya Andah, pun  berlenggak-lenggok menggoyangkan badan dan kaki sambil bersiul mengikuti nyanyian burung yang berpusing-pusing di permukaan sawah.

Aku melihat jarum panjang jam tangan diriku sudah berputar dua kali 360 derajat sedari Yah Andah terus berlenggak-lenggok, kedua kaki kini memijaki pematang sepertinya ia hendak pulang. Aku pun melangkah pesat menyusuri pematang yang digenangi ilalang menuju petak sawah Yah Andah. Bruk! Tak bersahaja bahu kanan kami saling tubruk. Tak sampai berjatuhan. “Ke mana matamu?” hardik Yah Andah sambil melototkan matanya. Kalau saja tak menghormati orangtua, ingin sekali aku membentaknya, tapi bau tanah badan kerdilnya membuat diriku tak rela.

Ia pun pergi membelakangiku, aku balik badan dan berjalan pesat lagi hingga sampai di sudut sawah Yah Andah. Celingak-celinguk sekejap memantau orang-orang di sekeliling. Juga Yah Andah, apakah ia sudah pulang, atau berselubung di balik jambo dekat irigasi.

Mengira-ngira aman, aku mulai berjongkok dan menggapai bungkusan daun berbentuk piramida tadi. Perlahan kubuka bagian pucuknya dan kuperhatikan. Aha, rupanya ini sesaji  untuk memberkati tanaman padi orang kampungku. Inilah yang dipercayai orang kampungku selama berbilang tahun.

“Peneuuphon” itu yang mereka namai. Aku mulai bertanya; buat apa berharap pada peneuphon. Seingatku ini ritual orang-orang Hindu tempo dulu.  Maka aku mulai membuang satu persatu “peneuphon” yang ada di sawah itu. Bungkusan yang berisi  pisang monyet bersandar pada sekuntum mawar merah dan rumput berdaun lancip serta bulirnya merompok. Dan mawar merah itu kutabung dalam saku baju. Ini akan kuhadiahi buat pacarku esok Senin pagi di sekolah. Telor ras terjepit nasi ketan di pangkal bungkusan. Ada juga rambut enau yang keras dan hitam, dua tanaman hutan yang tak diriku ketahui nama dan jenisnya. Eh, ada koin 500 rupiah, aku pun segera mengambilnya.

Dengan perut yang keroncongan, maka  pisang mulai kukupas dengan nasi ketan dengan lahapan hanya dua kali telan. Angin pagi pun mulai menampar wajahku dan mengelus-elus perutku yang tampak membusung kenyang. Sejak itu aku terus mengitari sawah, memburu peuneuphon. Ini perjalanan yang  sangat mengenyangkan. “la la la.. la la la,” aku belajar nyanyi dan goyang pinggul seperti Yah Andah yang bergoyang saat menaruh bungkusan peuneuphon di tengah sawahnya, pagi tadi.

* MAKMUR DIMILA adalah mahasiswa KPI-Jurnalistik Fak. Dakwah IAIN Ar-Raniry

Cerpen ini telah dimuat di harian Serambi Indonesia, bisa juga diakses di http://www.serambinesw.com

Hello world!


Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!