Ritual Kekasih


Image(kepada AM binti MU)

/1/

debu yang melekat di bajuku
telah kau jentikkan,

ranting yang merintangi jalanku
telah kau singkirkan,

keringat yang membasahi wajahku
telah kau keringkan,

sebuah kegagalan
jika aku kehilanganmu, Sayang.

Continue reading “Ritual Kekasih”

Advertisements

Hujan Turun dari Setangkai Mawar


Hujan Turun dari Setangkai Mawarhujan suatu malam turun tanpa sayap
yang mengepakkan petir di atap Kutaraja

sebutir di antara juta bulir memercik
pada setangkai mawar merah merona

Continue reading “Hujan Turun dari Setangkai Mawar”

Gelas


katakanlah pada suatu ketika
ada dua gelas di sebuah gunung

di bawah lampu langit awal tahun
di bulan yang mesra

oya, dua gelas itu bersulang
“bulan yang mesra,” kata mereka

o kala itu aku haus tiada tara
sekalipun di bulan yang mesra Continue reading “Gelas”

Terdampar di Lautanmu


(Karya LH untukku)

Aku mengenalmu dari gemilang cahaya.
Warna-warni menari-nari ke arahku,
Menawarkan semangkuk air untukku yang sedang dahaga..
Termangu aku tunduk membisu. Continue reading “Terdampar di Lautanmu”

Sepasang Gelang Sederhana


Dok Pri

Benda mati seketika hidup kala kerinduan sepasang manusia merasukinya. Oh. Sepasang manusia jaman sekarang seperti menyaingi Tuhan: memberikan nyawa pada benda mati, menciptakan nafas baginya dengan rindu-rindu yang curam. Benda mati adalah senter dalam kegelapan, air di padang pasir, asi untuk bayi, bulan kala malam.

Seperti aku dan dia

Sepasang gelang sederhana mengikat sepasang hati; Continue reading “Sepasang Gelang Sederhana”

Kasida Hijau (1)


Rupamu adalah inspirasiku, hijau. Kalau aku seorang musisi maka kutulis lagu-lagu tentangmu hingga suara tak bisa dijual-belikan lagi. Aku hanya bisa memetik imajinasi dan merangkainya menjadi beberapa tangkai puisi; puisi-puisi yang bukan untuk aku perjual-belikan, tapi hanya untukmu, hijau. Kau tahu? Para musisi bisa saja meminta puisiku untuk dibuat lagu, tapi aku takkan pernah meminta lagu dari para musisi untuk kubuatkan  puisi untukmu. Continue reading “Kasida Hijau (1)”

Syair Cinta


Bebatuan Sungai

Wujud cinta seperti bebatuan sungai, mendiami pada kedalaman, bagai jiwa yang satu merasuki jiwa satu lagi. Tatkala batu diraup manusia, satu dan lainnya bercerai, begitu umpama. Cinta berkaki, lari dari hati ke hati.

Seperti Pisau Dapur

Cinta setajam pisau dapur, menusuk segala jiwa, menyanyat segala hati, menyimbah segala rasa. Tak kau asah, cinta tumpul. Sering basah, cinta berkarat. Cinta seperti pisau dapur.

Cinta Macam Pisang

Benih cinta akan berserak dalam segala hati. Mewujud tunas di taman hati. Lamat-lamat menumbuh dan bersemi. Bunga-bunganya timbul karam dalam vas rasa. Suatu waktu tiba masanya layu, lalu tumbang. Jiwa lain datang menebang. Untung bila hati sudah bertunas lagi, macam pisang tiba masanya diparang.

Penggoda

Kepulan asap rokok adalah perempuan-perempuan penggoda. Awalnya jelita, selanjutnya membaur, memudar, lenyap. Hanya bau menyengat bersisa, tanpa wujud. Jangan kau mencintai penggoda.

(PM, 15 April 2012)