Pengalaman dari Dua Koran (2)


Jika Harian Aceh tidak terbit lagi, saya cuma enam bulan bekerja sebagai editor. Selanjutnya saya kemana? Nanggroe Post?

BANDA Aceh sedang mendung pada 28 November 2011. Arif menelfonku pukul 13:45 WIB. Ia wartawan Pidie Raya yang handal setelah Musmarwan Abdullah.

Bang, kiban na tubiet koran uronyoe?”

Saya masih disapa “Bang”. Ya, suaraku sengaja kutua-tuakan (hehe). Beberapa wartawan daerah lain juga menyapaku demikian. Hingga saat itu, saya belum pernah melihat beberapa rupa wartawan Pidie Raya: Marzuki, Muhammad Abr, Irfan Sofyan, Musmarwan Abdullah, dan Arif Surahman. Sedang Zamah Sari dan Harmadi Hr baru saja jumpa Minggu (27/11) siang.

Mereka juga tidak akan hadir (tak perlu) ketika rapat redaksi lanjutan pada 13 Desember 2011, dua minggu setelah jeda cetak koran. Siang itu dapat telepon dari kantor. Saya memacu Mario agak kencang. Di tengah perjalanan, ditelepon lagi, “rapat sudah mulai dari tadi,” suara Kak Cut, resepsionis. Continue reading “Pengalaman dari Dua Koran (2)”

Advertisements

Pengalaman dari Dua Koran (1)


Simak pengalaman saya ketika bekerja sebagai editor pada dua surat kabar harian umum di Aceh. Semoga termotivasi dan dapat inspirasi! Tapi ingat, yang terpenting, siapa kamu hari ini, bukan siapa kamu kemarin.

Suasana dapur redaksi HA. Dok. Pribadi
Suasana dapur redaksi HA. Dok. Pribadi

SUATU sore di pengujung April 2011, saya mendatangi kantor Harian Aceh di Jalan T Iskandar Lambhuk, Banda Aceh, dengan Astrea Grand warisan kakak. Saya hendak menagih honor tulisan lepasku yang dimuat media tersebut.

Keluar dari kantor berlantai tiga itu, saya dipanggil seorang pemuda yang sedang makan nasi di warung sebelah—kemudian kutahu namanya adalah Taufik Al Mubarak, redaktur pelaksana Harian Aceh. Usai memperkenalkan diri, dia tiba-tiba menawarkanku job yang tak kusangka-sangka. Ia tawarkan aku bekerja di Harian Aceh (HA) sebagai asisten redaktur. Continue reading “Pengalaman dari Dua Koran (1)”

Pamit

Setiap pertemuan akan berakhir dengan perpisahan. Sepasang sandal jepit saja suatu saat akan berpisah, ketika salah satunya putus tali penjepit. Batang pisang saja akan berpisah dengan tandan buahnya kala tiba masanya.


Kami punya cerita tentang produksi kue. Beberapa tahun lalu, sebuah pabrik kue berdiri di negeri ini. Ada dua pihak dalam menjalankan usaha penganan tersebut. Pertama, kami yang menghasilkan kue. Satu lagi, pihak yang mendanai pabrik itu.

Usaha itu mulus. Kami memproduksi berbagai kue. Tradisional ada peukarah, seupet, bhoi, kueh bret, aneuk jaroe, cheurlop, dodoi, wajeb, seumprit, boh lu, hingga apam sesekali. Modern, seperti bolu black forest, kue tar, good time, kue nastar, cantik manis, cinamon cookis, batik nescafe, resimbal, cornflaks dan lain dari itu yang namanya kebarat-baratan. Continue reading “Pamit”