Pamit

Setiap pertemuan akan berakhir dengan perpisahan. Sepasang sandal jepit saja suatu saat akan berpisah, ketika salah satunya putus tali penjepit. Batang pisang saja akan berpisah dengan tandan buahnya kala tiba masanya.

Advertisements

Kami punya cerita tentang produksi kue. Beberapa tahun lalu, sebuah pabrik kue berdiri di negeri ini. Ada dua pihak dalam menjalankan usaha penganan tersebut. Pertama, kami yang menghasilkan kue. Satu lagi, pihak yang mendanai pabrik itu.

Usaha itu mulus. Kami memproduksi berbagai kue. Tradisional ada peukarah, seupet, bhoi, kueh bret, aneuk jaroe, cheurlop, dodoi, wajeb, seumprit, boh lu, hingga apam sesekali. Modern, seperti bolu black forest, kue tar, good time, kue nastar, cantik manis, cinamon cookis, batik nescafe, resimbal, cornflaks dan lain dari itu yang namanya kebarat-baratan. Continue reading “Pamit”

Kelamaan


Ada yang berduka di balik penundaan Pemilukada Aceh. Abu Toy Sijoy meninggal kemarin. Padahal ia ingin sekali memilih bupati dan gubernur baru.

Dengar-dengar dari penuturan orang kampungnya, sebelum meninggal, kakek Je itu sempat mengucapkan “fuck you” kepada pemimpin yang hampir ludes masa jabatannya.

Continue reading “Kelamaan”

Gubernur, Bencana!


Suatu sore pada suatu periode kepemerintahan Aceh, belasan satpam siaga di lantai dua kantor gubernur. Seperti agak bosan menunggu, para pengawal melebur. Membuat kelompok-kelompok kecil. Bincang-bincang. Kesiagaan pun memudar.

Ada seorang lelaki tua di lantai dua itu. Ia duduk sendiri. Terasing dari para pengawal. Tiba-tiba, sang gubernur muncul dari ruangannya. Beberapa pengawal melihatnya dan lekas memberitahukan kawannya. Semua pengawal itu kemudian lari kucar-kacir untuk menyambut gubernur.

Eh, si lelaki tua itu jadi panik. Ia heran melihat para pengawal berlarian seperti orang-orang menyelamatkan diri dari terpaan bencana alam. Lelaki tua itupun bangkit dari duduknya dan mulai berlari-lari kecil di lantai dua. Sementara para pengawal sudah menemani gubernur di bawah sana yang turun melalui tangga utara kantor.

Continue reading “Gubernur, Bencana!”

Pelayan adalah Raja?


Zaman edan ini sepertinya tak berlaku lagi pepatah lama: pelanggan adalah raja, melainkan telah populer “pepatah” baru: pelayan adalah raja.

Sebagian pelayan di warung-warung, toko-toko, atau kios-kios tak lagi ramah pada pelanggan, kecuali pelayan pria terhadap pelanggan wanita cantik atau sebaliknya: pelayan wanita terhadap pelanggan pria rupawan.

Je orangnya suka singgah di warung-warung. Oleh kawan-kawannya ia dikenal detektif warung kopi, dari warung ke warung. Kawannya tak heran ketika ia mengatakan, pelayan di warung-warung, toko-toko, dan kios-kios di Aceh tak lagi menganggap pelanggannya ibarat raja. “Malah mereka memposisikan diri bagai raja di depan pelanggan,” katanya.

Umumnya, para pelayan hanya akan datang melayani ke meja ketika dipanggil pelanggan. Harusnya ketika pelanggan datang, mereka menghampiri dan menawarkan. Mestinya pelayan malu jika pelanggan (misalnya) harus mengambil sendiri kue di rak penganan sebagai teman minum.

Belakangan ini Je melihat, pelayan setengah hati dalam melayani. Mereka kerap membawa-bawa masalah pribadi dalam bekerja. Mereka melayani dengan maksimal hanya ketika ada toke atau pemilik usaha di dekatnya. Jika tidak ada, para pelayan seperti meutulak-tulak cron dalam melayani pelanggan.

Padahal pelayanan yang demikian sangat merugikan usaha. Pelanggan yang kecewa dengan pelayanan akan menyebarkan kejelekan pelayanan itu ke orang lain, dari mulut ke mulut, sehingga dari berencana mencoba akhirnya tak jadi.

Pelanggan demikian termasuk dalam kategori Vulnerable Customer atau Value of Customer High–Value to Customer Low. Di sini, pelanggan memiliki nilai atau kontribusi yang tinggi bagi perusahaan, namun pelanggan tersebut hanya menerima nilai produk atau layanan yang rendah dari perusahaan.

Pelanggan dengan kategori seperti ini sangat potensial untuk menjadi pelanggan kecewa dan beralih pada produk lain. Apabila terjadi hal seperti itu, maka berpotensi kerugian bagi perusahaan, mengingat kontribusi pelanggan seperti ini cenderung tinggi.

Kategori di atas merupakan salah satu konsep untuk memilah dan memetakan pelanggan, seperti termuat dalam konsep “Value of Customer vs Value to Customer” dari Gupta & Lehman (2005). Value of Customer adalah indikator seberapa tinggi nilai yang diberikan oleh pelanggan kepada perusahaan, sementara Value to Customer berbicara mengenai seberapa tinggi nilai dari produk dan atau layanan yang diberikan oleh perusahaan kepada pelanggan.

Selain kategori Vulnerable Customer, ada tiga kategori lain. Ada namanya Lost Causes atau Value of Customer Low–Value to Customer Low, yaitu pelanggan yang memberikan kontribusi yang rendah pada perusahaan dan pelanggan tersebut juga hanya menerima produk atau layanan ‘seadanya’.

Kemudian ada kategori Free Rider atau Value of Customer Low–Value to Customer High, yaitu pelanggan yang hanya memberi kontribusi rendah tetapi karena satu dan lain hal menikmati layanan ‘berlebih’. Memelihara pelanggan seperti ini cenderung hanya akan mengikis kas perusahaan dan menghalangi perusahaan untuk meningkatkan pelayanan kepada pelanggan yang lain.

Terakhir, ada STAR, yaitu pelanggan yang benar-benar merupakan raja bagi perusahaan atau dikenal Value of Customer High–Value to Customer High. Pelanggan seperti ini memberikan kontribusi yang tinggi sekaligus juga menerima layanan tingkat dan produk dengan nilai yang tinggi dari perusahaan.

Contoh pelanggan seperti ini adalah nasabah priority banking dan penumpang pesawat kelas eksekutif. Jumlah mereka biasanya tidak terlalu besar, namun memberi kontribusi yang signifikan terhadap revenue perusahaan.

Dengan demikian, apabila Anda sudah merencanakan untuk mengalokasikan anggaran dan program untuk memuaskan dan mempertahankan pelanggan dengan memperlakukan mereka sebagai raja, yakinkan bahwa Anda hanya memperlakukan raja yang sebenarnya sebagai raja! “Jangan malah membuat diri Anda seperti raja,” kata Je pada seorang pelayan di Banda Aceh yang membuatnya kecewa.[]

(CP HA 22/12/11)

Mirip Siapa?


Bayi merah saga dikeluarkan dari rahim. Ia berpekik menangis; komunikasi pertamanya di dunia. Saat demikian, sang ibu amat senang dan haru-biru. Setidaknya senang karena ketika ia besar, bisalah disuruh kesana-kemari untuk melakukan sesuatu.

Saking bahagianya, perempuan yang baru melahirkan akan selalu menanyakan anaknya mirip siapa kepada setiap penjenguk. “Mirip siapa dia Je?” tanya kakaknya yang baru melahirkan. Pertanyaan itu sudah sekian kali didengarnya dari ibu-ibu yang baru melahirkan.

Biar senang, “Mirip artis yang main sinetron ini…” jawab Je jika sang ibu Aceh itu suka nonton sinetron, sembari mengernyitkan kening, pura-pura lupa. Padahal sama sekali tak mirip artis, melainkan mirip ayah si anak yang “gimana gitu”.

“Mirip Teungku Pulan,” sahutnya jika sang ibu Aceh itu muslimah; suka baca Alquran. “Mirip Briptu Norman,” ucapnya bila ibu Aceh itu suka lagu India dan berjoget. “Mirip Ayu Ting Ting,” katanya bila si ibu Aceh sering salah alamat dan suka dangdut. “Mirip Ronaldo,” tuturnya bila ayah si bayi itu suka main dan nonton bola. “Mirip Gayus Tambunan,” sindirnya jika ayah si bayi pernah kedapatan warga mencuri ayam atau semangka di ladang.

Semua jawaban itu, dilontarkan Je, sebagai sebuah semangat bagi ibu-ayah si bayi. Seperti pesan seorang tokoh dunia, “pujilah si anak, dan Anda membuat senang ibunya,” kata William Cobbett.

Agar mereka merawat dan membesarkan titipan Tuhan itu hingga jadi “orang”. Agar mereka lebih rajin “membuat anak” atau “membeli adek” ke depannya, sebagai upaya melawan program Keluarga Berencana (KB) yang membatasi dua anak saja—padahal bisa saja diprogramkan Keluarga Berencana sampai selusin anak. Terakhir, agar keduanya lebih rajin ibadah dan mencari nafkah.[]

(CP HA 19/12/11)

 

Hampir Basi


Mulanya Kak Bungsu memasak kuah pliek u tak berniat membagi-bagikannya ke tetangga sekadar menyambung silaturrahmi, tak seperti era 90an yang selalu mengantar sesuatu masakan ke pintu-pintu rumah tetangga.

Namun hingga 24 jam setelah dimasak atau telah lewat rotasi makan tiga kali, kuah pliek u yang dimasaknya satu kuali sedang, masih tersisa dua panci kecil. Ibu rumah tangga itu hanya berempat di rumah, bersama suami dan dua anaknya: satu Sonia, satu lagi baru diberitahukan dokter bahwa akan melahirkan minggu depan.

Karena merasa pasti tak akan habis lagi, Kak Bungsu berencana menyerahkan satu panci kuah pliek u pada tetangga, dari seharusnya dihidangkan untuk saudara jauh yang berjanji akan datang pada hari dimasak kuah itu.

Maka datanglah ia ke rumah terdekat. Mengetuk-ketuk pintu berkali-kali. Namun tak ada yang membuka. Ia kemudian ke empat rumah lagi. Dan mendapati hal yang sama. Akhirnya ia pulang dan menjadikan kuah pliek itu sebagai teman pakan bebeknya.

“Kami sengaja berdiam diri dan tak membukanya, karena Kak Bungsu orangnya begitu. Kalau sudah tak habis, baru dikasih ke kami,” aku si tetangga pada Je suatu hari. O, begitu rupanya. “Iya, benar-benar orang Pidie Kak Bungsu itu,” cap si tetangga.

Awal November 2011, orangtua Aya panen rambutan, yang tumbuh di halaman rumah. Satu rambutan binjai, satu lagi rambot mona (rambutan thailand). Ayah Aya akan memetik rambutan ketika anak-anak di sekitar rumahnya tak ada. Biasanya pagi, ketika anak-anak ke sekolah. Selalu begitu. Agar bocah-bocah tak merengek di bawah, meminta rambutannya.

Dan pagi itu, setelah memetik sekitar sekarung beras 50 kilo gram, si ayah langsung menjualnya di depan rumah, di jalan yang dibangun masyarakat gampong itu dengan dana dari Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri.

Sang ayah tak dulu membagikannya ke tetangga atau saudara. Dengan menggelar meja papan—bekas meja makan, si ayah menjaja berikat-ikat rambutan. Mulai dari Rp5 ribu hingga Rp20 ribu. Jalan itu dekat dengan jalan nasional, yang setiap detik “nga ngu nga ngu” kendaraan lewat.

Namun, dua jam usai menggelar dagangan, baru laku tiga ikat dengan masukan Rp15 ribu yang cukup untuk setumpuk ungkot sure (ikan tongkol), hujan turun. Guyurannya tak reda hingga jam 6 sore. Ah, si ayah hanya geleng-geleng kepala.

Keesokannya, ayah Aya mendapati rambutan binjai kemarin telah tak lagi indah dipandang. Rambutnya melayu. Warnanya sudah merah kehitaman. Sebagian sudah mengeluarkan lendir. Sementara rambot mona, hanya layu rambutnya.

Tak mau rugi, si ayah tetap menjual lagi, namun hanya yang mona saja. Ditambah beberapa ikat rambutan binjai yang dipetik lagi pagi itu. Sedang rambutan binjai yang dipetik kemarin di mana sudah tak enak lagi dilihat—apalagi dimakan, ia bagi-bagikan ke tetangga sekitar dan orang-orang yang lewat depan rumahnya. Ia menganggap itu sedekah!

Namun, sebagian orang yang menerimanya, terutama ibu-ibu, selalu berkomentar, “eu, ata han lagot le jok keu gop (punya tak laku lagi baru kasih ke orang).” Komentar itu keluar sembari diterima, meskipun nanti membuangnya. Sama-sama tak ikhlas. Akhirnya menambah konflik batin.

Kiranya begitulah karakter sebagian orang Aceh. Memberikan sesuatu pada orang lain ketika ia tak bisa atau tak sanggup lagi memanfaatkannya. Dengan kata lain, memberi bukan diniatkan sejak awal, tetapi ketika ia dalam kondisi tertekan, kala sesuatu itu tinggal keurimeh (remah)-nya saja. Kalau nasi, yang hampir basi.[]

(CP HA 26/11/11)

Selalu Untung


Di antara rintik-rintik hujan yang mengguyur jalanan Banda Aceh medio Agustus 2011, Je tergeletak di badan jalan ruas kiri. Motor barunya terpelanting sepuluh meter darinya. Orang-orang hanya menonton dari depan pertokoan, seperti menyaksikan pembalap yang terjatuh di sirkuit Moto GP.

Je luka lecet. Untung tak ada mobil di belakang, ceritanya pada kawan suatu hari, sehingga ia tak tergilas (semisal) bus atau truk ketika telentang di badan jalan. Andai saja tergilas, ia barangkali mati. Jika mati, mungkin seorang terdekatnya yang kelahiran Aceh akan berkata, “Untung mati. Kalau setelah itu ia hidup, ia cacat dan tak bisa berbuat apa-apa.”

Orang Aceh sabe untong (selalu untung). Peristiwa di atas hanya contoh kecil. Dalam percakapan sehari-hari, mulut-mulut Aceh akan melontarkan kata “untong” setelah terjadi sesuatu. Padahal sesuatu itu bukan “sesuatu banget” seperti kata penyanyi Syahrini, tetapi sesuatu hal yang telah merugikannya, baik fisik maupun batin. Berikut contoh lainnya.

Minggu 20 November 2011, Timnas Aceh yang telah berlatih sepakbola di Paraguay selama tiga tahun, bermain imbang tanpa gol dengan PPLP Jawa Tengah dalam Turnamen Segitiga Muda di Stadion Lhoong Raya. Penampilannya sangat megecewakan! Bahkan ada yang menyebutkan, dari prediksi menunjukkan skil sepakbola ala latin malah menampilkan skil ala “lampoh u”, skil lahan kosong. Namun, ada juga yang menyatakan, “untong seri!” Artinya, imbang lebih baik dari kalah.

Ah, dua hari lalu, Abu Pakeh sedikit stres. Pendapatannya dari usaha depot air minum isi ulang sebulan terakhir, defisit (kurang) satu juta. Ia rugi. “Tanyoe manteng untong rugoe sijuta (Kita masih untung ruginya sejuta). Jeh, si Apa Maun, rugeo sampe limong juta (ruginya sampai lima juta). Lelaki tanggung itu masih bersyukur. Walau rugi, ia tetap merasa masih untung.  

Kemarin, Ari duduk di kantin dengan tampang gelisah. Je menyapanya. Rupanya Ari sedang tak punya uang. Dan banyak utang belum dilunasi. Karena iba, Je meminjamkannya. “Untong na kah ngon (untung ada kamu kawan),” ucap Ari pada Je setelah diberikan uang tunai.

Tadi pagi, Po Ramlah menjemur dua karung padi sebelum “diberaskan” ke pabrik. Di tengah penjagaan dari serangan mendadak ternak, ia terlelap di teras rumahnya. Ketika mata terbuka, ia mendapati padinya berkurang di satu sudut tikar jemuran. Padinya acak-acakan dimakan ayamnya sendiri. “Untong hana ditoh ujeuen (Untung tidak turun hujan),” katanya bersyukur, namun kesal berat.

Cukup. Anda akan menemukannya sendiri. Setiap hari akan terdengar dari mulut masyarakat Aceh. Maka dari fenomena sosial “orang Aceh selalu untung” ketika ditimpa musibah, itu menunjukkan bahwa orang Aceh punya karakter pensyukur. Syukuri apa adanya, kata d’Massiv dalam lagunya.

Syukuran itu kadang ditunaikan saat musibah tiba atau lama dan tak lama setelah musibah berlangsung. Orang Aceh selalu untung. Mau mati pun untung. Sudah mati pun untung. Sudah rugi pun tetap untung.

“Untong si Gam nyan mate, adak han maken le manok lam gampong tanyoe gadeh. (Untung pria itu mati, kalau tidak akan makin banyak ayam di kampung kita yang hilang),” syukuri seorang kala mendengar kabar kalau seorang pencuri ayam di kampungya telah meninggal.[] 

(CP HA 24/11/11)