Rp 1 Miliar per Font


Font karya desainer Aceh
Berepa font karya desainer Aceh yang cukup diminati oleh buyer internasional. FOTO: Makmur Dimila

Moh Agus Zamroni, memperlihatkan beberapa poster berisi font ciptaan pemuda Aceh kepada peserta diskusi Teras Sore, 8 Maret 2016, di Komunitas Kanot Bu, Lamteumen, Banda Aceh.

“Steady ini karya Ajir, penjualannya luar biasa, tidak turun-turun,” tuturnya, seraya menunjukkan pemuda berkaosEnvato yang duduk di deretan bangku peserta diskusi bertajuk ‘Fontastis’ itu, “namanya bukan Aceh, tapi magic betul.” Continue reading “Rp 1 Miliar per Font”

Aceh Women for Media


Perempuan berambut keriting pirang melenggang masuk ruangan. Dengan wajah sumringah menonjolkan matanya yang biru laut. Amy Mullins, namanya. Cukup terkenal bagi pengguna sosial media di Australia. Khususnya melalui akun Twitter, dia mengangkat isu-isu kesetaraan gender.

Tahun lalu, ada suatu konferensi tentang kebijakan perekonomian yang hanya menghadirkan 8 (delapan) pembicara lelaki. Amy dan kawan-kawannya dari Women’s Leadership Institute Australia (WLIA)—Lembaga Kepemimpinan Perempuan Australia—mentweet Event Organizer tersebut. Dia menyebutkan 8 perempuan yang layak bicara untuk konferensi itu. Namun tidak digubris.

“Tapi tahun ini, EO yang sama akhirnya minta kepada kami beberapa perempuan untuk acara tersebut,” cerita Amy, awal Mei 2015 itu. Continue reading “Aceh Women for Media”

Mop-mop Dijelang Ajal


Puluhan tahun hilang dari belantika seni Aceh, seorang pemuda coba membangkitkan kembali mop-mop yang khas dan rumit. Berhasil?

Oleh Makmur Dimila

Mop-mop adalah sebuah kesenian menyampaikan pesan-pesan moral dengan perpaduan seni tutur, tari, teatrikal, dan musik, yang dimainkan tiga pemeran dengan setting rumah tangga. Namun keunikan seni tradisi itu tenggelam oleh hegemoni seni-seni kontemporer.

Nyakman Lamjamee terenyuh melihat kondisi itu. Ia ingin perkenalkan kembali. Diamatinya, ada tiga pria tua di Krueng Mane, Aceh Utara, yang sudah memainkan mop-mop tiga dekade lebih. Continue reading “Mop-mop Dijelang Ajal”

Ilham dari Agam


Memiliki anak berkebutuhan khusus merupakan anugerah bagi pria ini.

Oleh Makmur Dimila

Taman Observasi Terapi Wicara dicetus oleh Saluddin Al Cassany, Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Sabang (STIES) Banda Aceh sekarang. Ditemui di ruangannya pada sore 21 Januari 2016, pria beruban ini sedang bersama Agam Rahmatamminna, putranya yang juga mengidap autisme.

Dia cerita, Agam lahir pada 1996 dengan kondisi normal. Bahkan sudah bisa berujar “Mama”, “makan”, saat berusia belum genap dua tahun. Namun kelainan muncul menjelang umurnya tiga tahun.

Sekitar 2001, Saluddin membawa putranya ke Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) Banda Aceh di Merduati—sekarang sudah pindah ke Santan, Ingin Jaya, Aceh Besar. Continue reading “Ilham dari Agam”

%d bloggers like this: